Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar …(QS:23:ayat 55-56)

AL Qur’an Surat Al Mu’minun 51-60 :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

(51). يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖإِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(52). وَإِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.

(53). فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖكُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).

(54). فَذَرْهُمْ فِي غَمْرَتِهِمْ حَتَّىٰ حِينٍ
Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.

(55). أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ
Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa),

(56). نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ ۚبَلْ لَا يَشْعُرُونَ
Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.

(57). إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka,

(58). وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ
Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka,

(59). وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ
Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun),

(60). وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.

Sebagian orang merasa bahwa tanda bahwa Allah memberikan kebaikan kepadanya adalah sebagaimana menurut surat Al Mu’minun ayat 55 dan 56 tersebut di atas :

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.”

Sebaliknya,

Seringkali ketika kita sedang dalam masa kejahilan dalam hidup kita, Allah berikan segala kemudahan dan kesenangan-kesenangan di dunia. Baik itu berupa harta ataupun anak-anak serta kesenangan-kesenangan lain yang melenakan.

Namun, ketika kita berusaha mendekat kepada-Nya, justru kesenangan dan kemudahan dunia seringkali kita rasakan menghilang berganti dengan ujian-Nya yang seringkali membuat kita tersungkur kesusahan dan merasa hidup dalam kehinaan.

Sekali-kali tidak demikian !!

Pada Ayat-ayat (57-61) selanjutnya Allah mengatakan bahwa : Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.

Maksudnya adalah memperoleh kebaikan-kebaikan dari sisi Allah sejak di dunia ini dan utamanya adalah di akhirat kelak.

Apakah kebaikan-kebaikan tersebut?

Yang jelas, lebih baik dari harta dan anak-anak ataupun kesenangan hidup di dunia semata.

Apakah itu berarti memiliki harta yang sangat berlimpah?

Memiliki Anak-anak yang shaleh dan shalehah?

Memiliki istri yang cantik?

Memiliki rumah yang megah dan kendaraan yang mewah?

Memiliki usaha dengan hasil trilyunan dollar per tahun?

Memiliki tanah yang luas dan berhektar-hektar?

Kebaikan yang utama adalah diberikan oleh Allah pemahaman terhadap ilmu agama sesuai dengan petunjuk Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Itulah kebaikan utama yang dimaksud. Sesungguhnya kebaikan berupa harta dan anak-anak serta kesenangan hidup di dunia tidak lebih baik dari hidayah untuk mampu memahami Al Qur’an dan AsSunnah sesuai petunjuk Allah dan Rosul-Nya SAW.

Tanda Allah sayang sama kita adalah dengan diberikan pemahaman yang baik dan benar terhadap Al Qur’an dan Assunnah. Sehingga dengan ilmu tersebut kita mampu untuk meniti jalan menuju surga-Nya.

Dunia bukanlah tempat untuk beristirahat dan bersenang-senang. Karena sesungguhnya kita boleh beristirahat dengan tenang dan nyaman ketika kita benar-benar telah menginjakkan kaki di surga-Nya. Ammiiin ya Robbal Alamiin.

Wallahu’alam.

NB : Inti dari ‘Bahaya ancaman’ adalah pada ayat 53 dan 54, maka siapakah yang berpecah belah? yakni mereka yang tersesat. Mengapa tersesat? Karena pemahaman terhadap agama tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Assunnah. Bukankah semua orang juga berpegang kepada Al Qur’an dan Assunnah? Ya. Masing-masing golongan akan merasa demikian (dan merasa bangga). Tetapi sesungguhnya mereka tersesat.

Bagaimana agar tidak tersesat? Pertama, bermohon kepada Allah (itulah salah satu do’a dalam surat Al Fatihah yang wajib kita baca ketika shalat) yakni meminta diberikan petunjuk yang lurus dalam memahami agama. Jangan seperti orang Yahudi dan Nasrani yang tahu ilmunya tapi tidak diamalkan dan yang beramal tapi tidak berlandaskan ilmu.

Yang kedua, ikuti pemahaman Al Qur’an dan Assunnah berdasarkan pemahaman 3 Generasi awal umat Islam. Yakni pemahaman para sahabat, generasi setelah sahabat, dan generasi setelahnya.

Yang ketiga, hindari perkara syubhat. Silahkan cari apakah itu syubhat🙂

QS 23 ayat 53 dan 54 :

“Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).”

“Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.”

 

Dimanakah Posisi Anda Ketika Menghadapi Hari Perhitungan?

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). (QS Al Anbiya [21]:1)

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat Perhitungan (QS Al Anbiya’ [21] : 47).

Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan (QS 39 : 69).

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan…

View original post 1,328 more words

Agama yang diridhai oleh Allah

Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS Al Imran : 19)

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS AL IMran : 85)

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (AL Maidah : 3 )

AL INFITHAAR (Terbelah)

Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuh-mu. Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu. Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. (QS. AL INFITHAAR : 1-19)

Tahukah kamu hari pembalasan itu?

Tahukah kamu hari pembalasan itu?

Kalimat tersebut Allah ucapkan 2 kali sebagai penegasan dan akan pentingnya bagi kita untuk menyadari akan datangnya hari pembalasan tersebut. Tapi kebanyakan kita tidak menyadarinya dan menganggap hari pembalasan adalah sesuatu yang masih sangat jauh untuk dihadapi. Dalam Surat Al Infithaar tersebut Allah tegaskan tentang hari pembalasan, hingga mengulangi pertanyaan tersebut. Akankah kita menyadari dan mencari tahu kebenarannya ataukah kita bersikap acuh dan masa bodoh? Sesungguhnya sebagian besar manusia akan bersikap acuh dan masa bodoh. Wallahu’alam.

Studi Kasus

Study Case (Contoh Kasus)

        Untuk lebih jelasnya, baiklah kita buat contoh kasus seseorang yang mengerjakan Shalat berdasarkan kriteria Shalatnya.

A.      Kriteria 1 (Satu)

Shalat berdasarkan kriteria 1 ini merupakan kriteria utama, karena sesuai dengan perintah Allah dan Rosul-Nya. Tidaklah sesuatu yang berasal dari Allah dan Rosul-Nya melainkan itulah perintah yang terbaik bagi kita. Namun kita seringkali menghindarinya dengan meringan-ringankan sesuatu yang diperintahkan wajib tersebut, serta menganggapnya remeh. Padahal ternyata sesuatu tersebut sangatlah dahsyat pengaruhnya. Contohnya adalah perintah Shalat tersebut. Sesuatu yang datang dari Allah dan Rosul-Nya sudah pasti tidak akan bertentangan dengan akal dan logika serta ilmu pengetahuan. Akan saling menguatkan. Perintah dari Allah melalui firman-Nya dalam Al Qur’an, bersesuaian dengan perintah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melalui Hadits atau sunnahnya, dan akan sesuai juga dengan logika dan pengetahuan kita. Betapa Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkeinginan membakar rumah salah seorang sahabat yang tidak melaksanakan Shalat berjama’ah di Masjid.

Betapa seorang buta sekalipun, tetap diwajibkan untuk menghadiri Shalat berjama’ah di Masjid. Hal tersebut Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sampaikan karena betapa sayangnya Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam terhadap Ummatnya. Berdasarkan hitung-hitungan di atas, seandainya dosa harian kita sebanyak 54.000 point, sementara Shalat berjama’ah di Masjid dan dikerjakan awal waktu memberikan kontribusi point sebesar 1.701.060 sehingga jika dikurangi dosa harian tersebut maka masih bersisa sebanyak 1.647.060 point. Point tersebut akan memberikan dampak yang luar biasa bagi kehidupan pelakunya di dunia dan akhirat. Jika seseorang tersebut mendirikannya semenjak dia dikenai kewajiban untuk Shalat (akil baligh), dan konsisten menjaga Shalatnya tersebut. InsyaAllah hidupnya akan penuh dengan kemuliaan dan kebahagiaan di dunia dan terlebih lagi di akhirat, selama dia meninggalkan dosa-dosa besar dan tidak menyekutukan Allah. Apalagi jika amalan-amalan sunnah dia kerjakan. Sungguh sangatlah beruntung orang yang demikian.

Seandainya orang tersebut hidup selama 60 tahun, dan kita hitung kewajiban Shalat sejak dia berusia 10 tahun, dan satu tahun terdiri dari 12 bulan, serta satu bulan kita anggap terdiri dari 30 hari, maka sisa pahala Shalat wajibnya saja setelah dikurangi kemungkinan dia melakukan dosa harian yang tergolong dosa kecil, masih menyisakan pahala kurang lebih sebanyak 1.647.060 point x 12 bulan x 30 hari x 24 jam x 60 menit x 60 detik = 51.230.154.240.000 Point Pahala.

Jikapun dihitung secara materi di dunia, dia pasti akan menjadi orang yang sangat kaya raya dan bahagia. Kalau angka tersebut kita anggap sama dengan nilai Rupiah, berarti dia memiliki kekayaan lebih dari 51 Trilyun Rupiah. Apalagi kalau kita anggap sama dengan Dollar, silahkan hitung sendiri. Namun yang jelas orang tersebut insyaAllah akan jauh lebih bahagia dari orang yang memiliki uang sesuai dengan deret point tersebut. Entah itu disamakan dengan nilai Rupiah ataupun Dollar, ataupun berat perhiasan emas yang dimilikinya, yang pasti orang tersebut akan jauh lebih bahagia. Karena sesungguhnya rahmat dan karunia-Nya tidaklah terhitung jumlahnya.

B.      Kriteria 2 (Dua)

Kita coba contoh kasus orang yang melaksanakan Shalat berdasarkan kriteria 2 ini, yakni Shalat di awal waktu namun dikerjakan sendirian di rumah atau tempat lain. Anggaplah orang tersebut selalu Shalat tepat waktu, namun dikerjakan sendiri saja, dengan alasan udzur atau sakit atau bisa juga alasan takut atau membahayakan jika pergi ke Masjid (Hari gini sebenarnya tidak masuk akal jika alasannya seperti ini). Berdasarkan perhitungan di atas, jika dosa harian (dosa-dosa kecil) yang diperbuatnya baik sengaja ataupun tidak disengaja, sebanyak 54.000 point per hari dan point pahala Shalat kriteria 2 ini sebesar 50.080 Point, maka jika dihadapkan antara pahala Shalat wajib 5 waktu dengan dosa hariannya menghasilkan nilai minus 3.920 Point Dosa. Ingat, minus lho, berarti anda punya hutang.

Jadi, jika Shalat yang kita kerjakan berdasarkan kriteria 2, maka dosa anda tidak sepenuhnya terhapus melainkan masih tersisa sebesar -3.920 Point Dosa. Sisa dosa yang tidak terhapus semuanya ini, yakni sebesar 3.920 jika dibiarkan maka akan bertumpuk terus menerus. Dalam waktu sehari saja sudah menyimpan 3.920 Point dosa, jika selama satu bulan berarti 3.920 x 30 = 117.600, dan selama satu tahun 117.600 x 12 = 1.411.200 Point Dosa. Ini artinya, selama satu tahun tersebut, jika menghitung dosa-dosa ringan saja sementara Shalat wajibnya mengikuti kriteria 2, maka tetap akan menanggung beban dosa sebanyak 1.411.200 Point. Jumlah tersebut sama dengan 1.411.200 detik, yang berarti sama dengan 23.520 menit, sama dengan 392 jam, dan sama dengan 16,3 hari. Ini artinya, dalam setahun tersebut di dunia saat ini, meskipun anda rajin shalat dan tepat waktu, namun dikerjakan sendiri saja (bagi laki-laki) anda akan mengalami masa-masa sulit dan tidak nyaman selama kurang lebih 16,3 hari atau 392 jam. Sementara sisanya adalah biasa-biasa saja, enak tidak terlalu susah pun tidak.

Nah, yang 392 jam inilah ‘neraka’ dunia anda seperti sakit parah, mendapatkan musibah, kecopetan, kerampokan, hati tidak tentram, dikejar-kejar perasaan bersalah, hilang semangat, galau, resah, gelisah dan lain-lain yang membuat anda serba menderita. Namanya juga di neraka, hehe..meskipun masih di dunia. Belum lagi jika di neraka sungguhan. MasyaAllah, sungguh jauh lebih sengsara dan menderita. Jika posisi ini tidak anda ubah segera, yakni dengan merubah kriteria pelaksanaan Shalat menjadi kriteria 1, bukan mustahil pada saat hari penghisaban nanti berat timbangan anda akan condong ke kiri yang artinya anda akan dijebloskan ke neraka sesuai dengan banyaknya dosa anda. Itu baru kita pertemukan antara pahala Shalat kriteria 2 dengan dosa harian yang seringkali tidak disengaja. Apalagi kalau kita ada dosa besarnya, maka jelas posisi timbangan akan semakin berat ke kiri, yang artinya akan semakin lama untuk tinggal di neraka. Jadi, Shalat kriteria 2 ini agaknya kurang dahsyat jika dikatakan sebagai penggempur dosa-dosa kita, soalnya masih menyisakan ‘kotoran’ atau dosa.

C.      Kriteria 3 (Tiga)

Bagaimanakah kondisi orang yang Shalat berdasarkan kriterianya termasuk kriteria 3, yakni yang sering mengundur-undur waktu Shalat wajib dengan sengaja tanpa udzur. Berdasarkan catatan di atas, shalat kriteria 3 ini menyisakan – 21.920 Point Dosa. Jadi, setiap hari seseorang yang mengerjakan shalat tapi senantiasa mengakhirkan waktunya hingga molor beberapa jam dari awal waktu. Ini berarti, setiap hari orang tersebut mengumpulkan ‘dosa’ sebanyak 21.920 Point. Dimana dalam 1 bulan akan menghasilkan dosa sebanyak 657.600 Point, atau dalam setahun sebesar 7.891.200 Point Dosa atau detik sesuai kesepakatan kita bahwa pont terkecil yang bisa kita hitung adalah satuan detik. Jumlah tersebut sama dengan dengan 7.891.200 detik atau 131.520 detik atau sama dengan 2.192 jam atau setara 91,33 Hari atau sama dengan kurang lebih 3 Bulan. Siap-siap saja, dalam setahun, selama 3 Bulan Allah akan memberi azab dunia kepada orang tersebut. Bisa berupa sakit, entah diri kita, istri kita, anak kita, dan lain-lain yang membuat kita tidak merasa nyaman. Pokoknya penderitaan, namanya juga ‘neraka’ dunia.

Betapa banyak kita saksikan orang yang bertahun-tahun berjuang mencari dunia hingga terbeli segala keinginannya atas jerih payah yang dilakukannya. Namun satu saja kekurangannya : Shalatnya bermasalah. Maka hasil jerih payahnya tersebut akan Allah ambil dengan paksa, baik dengan cara yang sangat halus maupun cara yang lebih keras. Sering kita mendengar dan menyaksikan seseorang yang sedang sakit misalnya memerlukan biaya yang tidak sedikit, harta yang dikumpulkan selama bertahun-tahun sedikit demi sedikit ludes terjual hanya dalam waktu singkat untuk mengobati sakitnya. Ini diakibatkan tidak lain karena salah satunya adalah lalai dalam shalatnya.

D.      Kriteria 4 (Empat)

Orang yang termasuk dalam kriteria keempat ini jelas-jelas meninggalkan Shalat wajib lima waktu. Sehingga, jika kita hitung catatan dosa akibat tidak Shalat ditambah dengan dosa harian, maka jumlahnya sebanyak 528.822.000 Point Dosa, atau setara dengan 528.822.000 detik dosa setiap hari. Jumlah tersebut jika kita kalikan selama satu Bulan, maka menjadi 15.864.660.000 detik dosa. Atau dalam setahun setara dengan 190.375.920.000 detik dosa. Jumlah tersebut sama dengan 3.172.932.000 menit atau setara dengan 52.882.200 jam dan sama dengan 2.203.425 hari. Jika dalam satu Tahun kita anggap memiliki jumlah hari sebanyak 360 hari, maka jumlah tersebut setara dengan 6.120,625 Tahun azab yang akan ditimpakan kepada orang dengan kriteria nomor empat tersebut. Itu baru hitung-hitungan selama setahun. Jika orang tersebut diberi umur oleh Allah selama 60 Tahun untuk hidup di bumi, maka, sejak umur 10 tahun dia telah dikenai kewajiban shalat, ini berarti 50 tahun adalah masa kewajiban shalatnya. Jika demikian, maka masa azab di dunia sebanyak 6.120,625 x 50 = 306.031,25 Tahun!!

Orang seperti ini, jika pun Allah beri kekayaan, sudah pasti hatinya akan sangat kering dan hampa, kekayaannya tidak akan pernah dia nikmati sedikitpun. Tidak akan pernah merasa puas terhadap apapun yang ada di dunia, meskipun dia sudah memperoleh segalanya dari dunia. Hatinya akan senantiasa gelisah, hidupnya tidak tentram, tujuan hidupnya tidak jelas. Meski dia mendapatkan popularitas serta pujian di dunia, maka Allah akan hinakan dia. Hartanya yang berlimpah tidak akan membahagiakan hatinya, bahkan sepeser pun harta tersebut tidak akan Allah izinkan untuk dinikmatinya, padahal secara hukum dunia harta tersebut miliknya. Kekuasaannya tidaklah akan membawa dia kepada kesejahteraan dirinya, malah akan membawa kesengsaraan bagi dirinya hingga dia meninggal sekalipun. Istri yang cantik tidak pernah membuatnya merasa cukup, Allah hancurkan dia dengan skandal-skandal yang sangat memalukan sehingga membuat istri dan anak-anaknya terluka. Betapa sangat dahsyat masa azab golongan keempat ini, sehingga tidak berbeda dengan keadaan atau kondisi orang kafir. Benarlah Rosulullah pernah bersabda bahwa pembeda antara seorang Muslim dan Kafir adalah Shalatnya. Untuk itu, marilah kita benahi Shalat kita sesuai petunjuk Allah dan Rosul-Nya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Alergi Shalat Berjama’ah?

Untuk mendirikan shalat berjama’ah di mesjid, khususnya bagi kaum laki-laki sebenarnya memang sangat berat. Apalagi jika selama ini kita berpaham bahwa shalat di rumah atau di mesjid sama saja, cuma memang lebih utama di mesjid. Banyak para ulama pun berfikiran demikian. Sesungguhnya shalat wajib yang lima waktu hukumnya wajib dikerjakan secara berjama’ah bagi setiap laki-laki muslim yang mukallaf dan berakal sehat. Hal ini dinyatakan dalam hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang menceritakan bahwa ada seorang buta yang rumahnya cukup jauh dari mesjid dan tidak memiliki seorang penuntun yang cocok untuknya, meminta keringanan kepada Nabi untuk mendirikan shalat di rumah saja, mengingat rumahnya jauh, jalanan gelap, kota mekkah pada waktu itu sangat rawan binatang buas dan banyak pepohonan yang kemungkinan besar menghalangi jalannya. Namun jawaban Rosulullah adalah orang tersebut tetap berkewajiban untuk mendatangi mesjid. Bahkan Rosulullah sangat berkeinginan untuk membakar rumah orang yang tidak mengerjakan shalat berjama’ah di mesjid. Saat berperang pun, seluruh pasukan wajib mengerjakan shalat secara berjama’ah meskipun dikerjakan secara bergantian sesuai urutan shaff-nya. Bahkan Allah SWT berfirman :

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (shahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata…”. (An-Nisa`:102).

Maka apabila Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk melaksanakan shalat berjama’ah dalam keadaan takut maka dalam keadaan aman adalah lebih ditekankan lagi (kewajibannya). Dalam masalah ini berkata Al-Imam Ibnul Mundzir: “Ketika Allah memerintahkan shalat berjama’ah dalam keadaan takut menunjukkan dalam keadaan aman lebih wajib lagi.” (Al-Ausath fis Sunan Wal Ijma’ Wal Ikhtilaf 4/135; Ma’alimus Sunan karya Al-Khithabiy 1/160 dan Al-Mughniy 3/5).

Apalagi di zaman kita saat ini, mesjid ataupun mushola banyak dimana-mana, namun kita lebih senang melaksanakan shalat di rumah. Itu pun seringkali dikerjakan bukan di awal waktu, melainkan mepet-mepet di injury time. Waktu zhuhur dikerjakan menjelang waktu shalat Ashar, demikian shalat ashar dikerjakan menjelang masuk waktu shalat maghrib, demikian juga waktu maghrib dikerjakan menjelang waktu shalat Isya. Lebih parah lagi malah waktu shalat isya bablas jam 6 pagi dikerjakan bersama shalat shubuh…hehe, memang boleh? Tentu saja tidak boleh. Ya itulah kebanyakan kita. Oleh karena itu mesjid seringkali kosong.

Sesungguhnya memang berat melaksanakan shalat berjama’ah di mesjid. Mendengar kata shalat berjama’ah saja rasa-rasanya emoh, ogah, dan berusaha menghindari pembahasan tentang kewajiban shalat berjama’ah di mesjid. Lebih senang dengan kondisinya saat ini. Janganlah kita sebagaimana apa yang dikatakan oleh Allah ; punya mata tapi tidak mampu melihat, punta telinga tapi tidak mampu mendengar. Pada zaman Rosulullah, para sahabat yang sakit bahkan sampai ditandu menuju mesjid karena betapa mengetahui pentingnya shalat berjama’ah tersebut dilakukakn di mesjid. Kita mah biasanya hujan gerimis saja sudah membatalkan niat kita untuk mengurungkan shalat berjama’ah di mesjid.

Wajib.wajib dan wajib. Hukum shalat berjama’ah di mesjid bagi kaum laki-laki. Sementara bagi kaum wanita sebaik-baik shalat adalah yang dikerjakan di rumah. Tapi tetap harus di awal waktu, karena itulah yang paling utama. Kita perlu belajar sedikit demi sedikit untuk berteguh hati mendirikan shalat berjama’ah di mesjid. Betapa jika kita sudah membiasakannya, hati dan fikiran akan selalu terpatok ke mesjid. Bayangkan saja, rutinitas seorang yang membiasakan diri untuk shalat tepat waktu dan dikerjakan secara berjama’ah di mesjid. Sepertiga malam dia sudah bangun, guna melaksanakan shalat tahajud dan sekaligus persiapan agar shalat shubuhnya tidak terlewat. Anggaplah shubuh jam 04.30 wib. Selesai shalat shubuh, dia bersiap diri menyambut pagi dengan ceria, kemudian sebelum beraktifitas mempersiapkan diri untuk shalat dhuha. Selepas dhuha, misalnya dikerjakan jam 9 pagi, sekitar 2-3 jam kemudian adzan dhuhur sudah berkumandang dan dia siap-siap untuk mendirikan shalat dhuhur di mesjid. Selepas shalat dhuhur, sekitar 1,5-2 jam dia sudah siap-siap untuk mendirikan shalat ashar di mesjid yang waktunya sekitar jam 15.30 Wib. Rehat sejenak setelah shalat ‘ashar, maka shalat maghrib pun tiba yang waktunya sekitar 1,5-2 jam dari waktu ‘ashar. Apalagi waktu shalat isya, waktunya sangat dekat dengan shalat maghrib yang terpisah kurang dari satu jam. Setelah shalat isya sejenak menikmati malam dan beristirahat untuk tidak tidur terlalu larut malam agar tidak kesiangan untuk shalat tahajud kembali dan mengulang rutinitas sebagaimana biasanya. Shalat seperti ini, insyaAllah benar-benar akan menjadi shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar. Bagaimana tidak, lagi asyik-asyik bekerja, eh, waktu shalat sudah tiba. Selesai shalat dan lagi asyik-asyiknya melanjutkan pekerjaan, eh, adzan sudah berkumandang lagi. Kemudian melanjutkan aktivitas, dan tak terasa waktu shalat berikutnya sudah memanggil. Betapa orang yang demikian hati, fikiran, dan langkahnya akan selalu tertuju ke mesjid (ke Allah). Ia akan senantiasa galau jika di tengah perjalanan, dan sudah hampir masuk waktu shalat, kendaraannya terjebak macet. Tapi kalau kita memang sudah terbiasa mendirikan shalat berjama’ah di mesjid, biasanya akan Allah lancarkan jalannya. Masya Allah, sungguh beruntung jika kita mampu mendirikan shalat berjama’ah secara konsisten.

Lihatlah, betapa waktu kita ternyata sangat padat untuk diisi dengan shalat. Rutinitas tersebut akan terasa jika kita mendirikan shalat wajib secara berjama’ah di mesjid. Jika kita sering lalai shalat, biasanya merasa santai-santai saja. Shalat dhuhur yang seharusnya dikerjakan jam 12.15 misalnya, dia kerjakan jam 14.30, sedangkan shalat ashar yang seharusnya jam 15.30, dia kerjakan jam 17.15. Nah, orang yang mengerjakan shalatnya seperti ini akan merasa santai-santai saja, bahkan saking santainya malah shalatnya bablas.

Tidak heran, cara Allah melakukan seleksi pada hamba-Nya pada saat hari perhitungan nanti ya melalui amalan shalatnya. Jika amalan shalatnya bagus, maka akan bagus juga seluruh amalan lainnya dan dia dinyatakan telah sukses!! sebaliknya orang yang shalatnya amburadul, maka sesungguhnya dia akan merugi. Masih mending jikalau amalan ibadah lainnya dikerjakan dan sering berbuat kebaikan semasa hidupnya di dunia, maka para malaikat akan kumpulkan amalan-amalan tersebut untuk menambal amalan shalatnya yang kurang. Wah, repot deh kalau kita sudah dihisab demikian. Selagi kita saat ini masih di dunia, ayolah kita dirikan shalat wajib di awal waktu dan dikerjakan secara berjama’ah di mesjid. Wallahu’alam.

Matematika Pahala Shalat Wajib dan Dosa Diantara Waktu Shalat

Sebagaimana tadi telah kita bahas dan hitung, berdasarkan data-data di atas dapat kita simpulkan dalam sehari semalam (24 Jam) point yang dapat kita coba hitung adalah sebagai berikut :

  • Point Dosa Antara Waktu Shalat dan Istirahat/Tidur (15 Jam), dengan menganggap kita memiliki waktu potensial berbuat dosa dalam rentang waktu 15 jam, dimana anggaplah setiap detiknya ada saja satu dosa kecil yang kita perbuat (bukan termasuk dosa besar). Maka Pointnya adalah sebanyak 54.000 detik (Point).
  • Point Shalat Kriteria 1 : Shalat Wajib Berjama’ah di Masjid dan di Awal Waktu (Utama), sebanyak 1.701.060 Point.
  • Point Shalat Kriteria 2 : Shalat Wajib di Awal Waktu dan Dikerjakan Sendiri (Alasan Udzur/Berhalangan karena Sakit, sehingga tidak mampu pergi ke Masjid), sebanyak 50.080 Point.
  • Point Shalat Kriteria 3 : Mengulur-ulur Pelaksanaan Shalat Wajib baik Berjama’ah/Sendiri (Melalaikan Shalat), sebanyak 32.080 Point.
  • Point Shalat Kriteria 4 : Tidak Shalat, minimal sebanyak 528.768.000 detik atau point dosa setiap hari.

Dari catatan hasil perhitungan di atas, dapat kita buat perbandingan antara mendirikan Shalat wajib yang lima waktu tersebut, kriteria manakah yang benar-benar menjadi penebus dosa sebagaimana sabda Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

A.  Kriteria 1

  • Point Pahala Shalat Kriteria 1 : 1.701.060 Point.
  • Point Dosa Harian (Standar) : 54.000 Point.
  • Sisa Pahala : (1.701.060 Point) – (54.000 Point)

= 1.647.060 Point Pahala. (POSITIF)

B.  Kriteria 2

  • Point Pahala Shalat Kriteria 2 : 50.080 Point.
  • Point Dosa Harian (Standar) : 54.000 Point.
  • Sisa Pahala : (50.080 Point) – (54.000 Point)

= – 3.920 Point Dosa. (MINUS)

C.  Kriteria 3

  • Point Pahala Shalat Kriteria 3 : 32.080 Point.
  • Point Dosa Harian (Standar) : 54.000 Point.
  • Sisa Pahala : (32.080 Point) – (54.000 Point)

= – 21.920 Point Dosa. (MINUS)

D.  Kriteria 4

  • Point Pahala Shalat Kriteria 4 : NOL Point.
  • Point Dosa Harian (Standar) : 54.000 Point.
  • Point Dosa Tidak Shalat : 528.768.000 detik atau point dosa setiap hari.
  • Sisa Pahala : (0) – (54.000 Point + 528.768.000)

= – 528.822.000 Point Dosa. (MINUS)

Berdasarkan data-data di atas jelaslah bahwa yang dikatakan Shalat sebagai penebus dosa yang paling sempurna adalah Shalat berdasarkan kriteria 1, yakni Shalat Berjama’ah yang dikerjakan di Masjid dan di Awal Waktu. Karena, yang memberikan hasil positif hanyalah Shalat kriteria 1, sedangkan kriteria lainnya negatif atau minus. Perhitungan di atas setiadaknya dapat menjawab beberapa pendapat ulama yang menganggap Shalat berjama’ah di Masjid ‘hanya’ lebih utama saja, atau dengan kata lain bukanlah suatu kewajiban bagi tiap-tiap individu. Ada yang berpendapat fardhu kifayah, dan sunnah muakad. Ternyata, berdasarkan hitung-hitungan sederhana di atas, perbedaannya sungguh sangat jauh sekali. Sungguh merugi orang yang tidak mengerjakan Shalat sesuai kriteria 1, karena Shalat wajib memang merupakan kewajiban untuk dikerjakan secara berjama’ah di Masjid dan di awal waktu yang telah ditentukan. Bahkan jika dikerjakan secara tepat waktu namun hanya dikerjakan sendirian saja, tetap tidak sebanding dengan Shalat Berjama’ah yang dikerjakan di Masjid di awal waktu.

Memang, angka-angka tersebut bukanlah mutlak, namun semua kriteria Shalat tersebut menggunakan variabel yang sama sebagai faktor penghitung dan pengurang. Anda bisa saja merubah beberapa variabel yang dirasa kurang sesuai, misalnya point-point pelaksanaan Shalat anda lebih sempurna dan dosa-dosa kecil yang dikerjakan baik sengaja ataupun tidak disengaja tidak sebesar itu. Silahkan saja, asalkan variabel yang digunakan harus sama. Atau sebaliknya, jika anda merasa dosa harian anda kemungkinan jauh lebih besar dibandingkan data-data di atas, bisa anda tambahkan, misalnya saja kemungkinan tiap detik berbuat 10 dosa sekaligus. Bisa saja, misalnya seseorang yang merokok di angkot, dan angkot tersebut penuh sementara anda enak-enakan merokok dan mencemari seisi angkot yang berisi 12 orang misalnya. Dosa anda pun akan tercatat minimal 12 point setiap saat-nya, karena kita tidak tahu asap rokok yang kita hembuskan ke luar mencemari siapa saja dan selama berapa lama. Itu baru contoh merokok, misalnya anda seorang wanita dan tidak berjilbab, karena rambut adalah aurat yang harus ditutupi, maka setiap pasang mata yang melihat anda merupakan point-point dosa yang terus menerus mengisi tabungan dosa anda.

Bayangkan, anda misalnya cantik dan menawan sehingga di mata lawan jenis anda merupakan sosok yang menarik perhatian dan sangat menggoda pandangan. Berpakaian serba terbuka dan mencolok. Kemudian anda jalan-jalan ke mal, dan tentu saja banyak yang akan memandang anda. Entah berapa point dosa setiap detiknya masuk ke rekening dosa anda, melalui orang-orang yang memandang dan ‘mengagumi’ anda. Atau sebaliknya seorang pria yang ke mal mengantar istri pergi belanja, dan mata-nya ikut-ikutan ‘belanja’ melihat yang cantik-cantik dan menarik. Bisa-bisa, pulang dari mal panen dosa. Banyak contoh-contoh lainnya. Silahkan coba analisa dan hitung sendiri, yang jelas angka-angka di atas bukanlah baku, karena masing-masing individu pasti berbeda situasi dan kondisinya. Sekali lagi, hitung-hitungan di atas hanyalah standar atau contoh saja guna membuktikan bahwa Shalat Berjama’ah di Masjid dan di awal waktu memiliki manfaat yang sangat dahsyat sebagai penggempur dosa-dosa kita. Sungguh benar-benar sangat merugi orang-orang yang menganggap remeh terhadap Shalat Berjama’ah di Masjid. Wallahu’alam.