Allah, The Only One : Tempat kita bergantung

Oke, kita kerucutkan sedikit bahasannya. Mengapa kita belum menganggap Shalat adalah wajib dan penting bagi kita, sebentar lagi akan kita bahas. Alasan pertama, adalah Tauhid. Tauhid adalah mengesakan Allah, sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat al ikhlas, dimana Allah itu satu, tempat bergantung, tiada beranak dan tidak diperanakkan. Allah itu Maha Tunggal. Salah satu syarat diterimanya segala amalan adalah tidak boleh menuhankan Tuhan selain Allah. Istilahnya, Bos kita itu Cuma satu, yaitu Allah azza wa jalla. The Only One. Jika ada Tuhan lain atau Bos lain yang kita ‘sembah’ selain Allah, maka itu dinamakan kita telah menyekutukan-Nya. Atau dinamakan perbuatan tersebut adalah syirik. Sementara itu, Allah azza wa jalla mengampuni semua dosa kecuali dosa syirik[1]. Meninggalkan shalat wajib dengan sengaja termasuk syirik akbar. Akan selamanya kita di Neraka, jika tidak segera bertaubat. Nah, mengerikan juga jika kita berbuat syirik terhadap Allah. Tertolak. Segala amal ibadah kita tertolak. Dan, segeralah kita bertaubat jika ternyata kita telah berbuat syirik kepada-Nya, dan kembali menyembah hanya kepada Allah semata.

Tunduk dan patuh hanya kepada Allah, monomorsatukan Allah. Allah the only One. Nah, jika kita merasa sudah clear, tidak ada yang kita sembah selain Allah, tidak ada yang memalingkan wajah ini selain hanya kepada-Nya, bolehlah kita berlega hati. Eiitts, nanti dulu, jangan lantas lenggang kangkung kita merasa fine-fine saja. Buktikan dulu, kata Allah. Emangnya Allah percaya saja dengan mulut manis ente, sebelum Allah uji? Hehe…kurang lebih begitu. Allah berkata; “ Aku uji nich si Fulan, bener nggak dia hanya bertauhid kepada-Ku, mengutamakan Aku, tidak men-duakan Aku, memenuhi segala kehendak dan perintah-Ku”. Waktu ujian pun dimulai, ditengah kesibukan beraktivitas di siang itu, Adzan berkumandang menandakan waktu Zhuhur telah tiba. Si Fulan jelas mendengar adzan tersebut yang menandakan panggilan untuk Shalat Zhuhur berjama’ah. Tapi, karena saat itu sedang sibuk mengerjakan laporan yang harus segera disampaikan kepada pimpinan, si Fulan ini hanya berujar, “ Alhamdulillah sudah waktu Zhuhur aja, gak kerasa …”. Bergegaskah dia menuju ke Masjid sekitaran kantor? Bukannya, bergegas ambil wudhu dan pergi menunaikan Shalat secara berjama’ah, eh, si Fulan malah melirik jam sambil berujar dalam hati, “Bentaran, ah, setengah jam-an lagi Shalatnya, lagi tanggung kerjaannya”. Tapi, sejenak kemudian ketika kumandang adzan sudah mendekati kalimat ajakan terakhir, si Fulan ini ragu dan berujar “ Eh iya, kan Shalat berjama’ah itu wajib…Shalat aja dulu gitu?”. Gumamnya dalam hati. Sambil melanjutkan pekerjaannya si Fulan berkata kembali dalam hati, “ Waduh, laporannya kan harus masuk hari ini, kalau tidak selesai nanti pimpinan (bos) bisa marah, nanti dapat penilaian jelek, nanti dianggap kurang kompeten, …bisa berabe nanti ”.  Akhirnya sampai terdengar suara iqomat, si Fulan masih asyik mengerjakan tugasnya. Hingga dia akhirnya mengerjakan Shalat jam 14-an, alias molor 2 jam dari waktu seharusnya. Sekilas, tampak tidak ada yang aneh, dan biasa-biasa saja. Malahan si Fulan ini akhirnya menunaikan kewajibannya juga untuk Shalat meskipun tidak tepat pada waktunya, atau bukan di awal waktu. Kebiasaan inilah yang kita anggap ‘biasa-biasa’ saja dan cenderung menjadi suatu kebiasaan yang sulit untuk diubah, yakni melalaikan waktu Shalat. Hingga tidak heran, kehidupan kita pun jadi biasa-biasa saja. Apakah Allah ridha? Jelas saja tidak. Jelas-jelas kita bersaksi melalui ucapan dua kalimah syahadat, salah satunya “Aku bersaksi tidak ada ilah yang berhak disembah melainkan Allah …”. Namun, disaat Allah azza wa jalla memerintahkan kita untuk Shalat sesuai perintah-Nya, kita malah sibuk mengurusi hal lain yang kita anggap lebih utama ketimbang Shalat berjama’ah tepat waktu. Jelas-jelas si Fulan lebih mengutamakan urusan dia dengan bosnya (pimpinannya) dibandingkan urusan dia dengan Allah. Jelas-jelas si Fulan telah menomorduakan Allah setelah menomorsatukan bos-nya. Apakah ini namanya bukan syirik? Apakah ini namanya bukan menyekutukan Allah? Lha, kan saya tidak menyembah berhala, tidak menyembah matahari, tidak menyembah bulan, tidak menganggap Allah memiliki anak dan ibu. Kenapa saya dibilang syirik? Kenapa saya dibilang menyekutukan Allah? Ya iya lah, si Fulan telah menganggap Shalat itu tidak lebih penting daripada pekerjaannya, dengan kata lain lebih takut terhadap bos-nya daripada kepada Allah Sang Pencipta dirinya dan juga bos-nya. Jangankan meremehkan Shalat, dengan lebih mementingkan urusan lain, dalam hal tolong-menolong pun kita diharuskan mengutamakan Allah terlebih dahulu untuk dimintai tolong. Dalam Al Qur’an Allah berfirman bahwa tolong menolonglah kalian dengan mempergunakan nama-Nya (“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”) [2]. Jadi jelas, Allah itu tidak suka disekutukan, apalagi dinomorduakan, terlebih lagi dinomor-akhirkan. Coba deh anda bayangkan, bagaimana bila kita memanggil anak kita, eh, bukannya dia menyahut panggilan kita dan segera memenuhi keinginan kita, alih-alih dia (anak kita) malah lebih mementingkan panggilan tetangga. Kita sudah pasti keselnya bukan main. Begitu juga Allah, disaat adzan berkumandang, tapi kita malah asyik dengan panggilan (urusan) lain, jelas Allah marah. Jelas Allah tidak ridha. Jelas Allah merasa di-duakan. Rusaklah syahadat kita tersebut, ternyata, kata Allah, ada ilah lain selain Aku yang lebih engkau tuju dibandingkan Aku. Lha, bukankah kerja juga ibadah? Iya betul ibadah, tapi dengan syarat Allah didahulukan, ada prioritas pekerjaan, Shalat dinomorsatukan karena merupakan perintah Allah, dipentingkan dari hal-hal selainnya, “ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku[3]. Coba deh, kita suruh anak kita membeli sesuatu di warung, ketika kita memanggil tapi tidak juga dibalas panggilan kita, tentu kita kesal. Terus, kita panggil lagi, eh anak kita malah nyahut doang, batang hidungnya tidak tampak di hadapan kita, pasti kita semakin dongkol. Begitu kita samperin, eh, dia malah lagi asyik-asyikan baca majalah sambil selonjoran. Sudah begitu, ketika disuruh belum juga beringsut dari tempatnya sedari tadi. Semakin marahlah kita, habislah kesabaran kita. Hingga kita bentak dan omelin anak kita, barulah dia berangkat memenuhi perintah kita. Lebih celaka lagi jika anak kita membantah dan ogah disuruh, wah semakin meluaplah emosi kita. Diancamlah anak kita dengan ancaman tidak akan dikasih jajan, tidak akan dibelikan ini dan itu kalau bandel seperti itu. Bahkan terkadang kita pakai dengan cara-cara yang lebih keras lagi agar dia menuruti perintah kita. Itu sama anak kita. Begitu pun Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Jangan sampai Allah marah sama kita sehingga Allah azza wa jalla mengunci rezeki kita, menghukum kita dengan kepedihan dan kesengsaraan. Naudzubillah.


[1] Syirik ada dua macam, yaitu syirik akbar dan ashgor. Seseorang yang melakukan syirik akbar dinamakan musyrik dan hilang tauhidnya jika sebelumnya dia seorang muwahid. Pelaku syirik ashgor telah berdosa besar dan berkurang tauhidnya, tetapi tidak hilang tauhidnya.

[2] QS.An-Nisaa:1

[3] QS.Adz Dzaariyaat:56

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s