Studi Kasus

Study Case (Contoh Kasus)

        Untuk lebih jelasnya, baiklah kita buat contoh kasus seseorang yang mengerjakan Shalat berdasarkan kriteria Shalatnya.

A.      Kriteria 1 (Satu)

Shalat berdasarkan kriteria 1 ini merupakan kriteria utama, karena sesuai dengan perintah Allah dan Rosul-Nya. Tidaklah sesuatu yang berasal dari Allah dan Rosul-Nya melainkan itulah perintah yang terbaik bagi kita. Namun kita seringkali menghindarinya dengan meringan-ringankan sesuatu yang diperintahkan wajib tersebut, serta menganggapnya remeh. Padahal ternyata sesuatu tersebut sangatlah dahsyat pengaruhnya. Contohnya adalah perintah Shalat tersebut. Sesuatu yang datang dari Allah dan Rosul-Nya sudah pasti tidak akan bertentangan dengan akal dan logika serta ilmu pengetahuan. Akan saling menguatkan. Perintah dari Allah melalui firman-Nya dalam Al Qur’an, bersesuaian dengan perintah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melalui Hadits atau sunnahnya, dan akan sesuai juga dengan logika dan pengetahuan kita. Betapa Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkeinginan membakar rumah salah seorang sahabat yang tidak melaksanakan Shalat berjama’ah di Masjid.

Betapa seorang buta sekalipun, tetap diwajibkan untuk menghadiri Shalat berjama’ah di Masjid. Hal tersebut Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sampaikan karena betapa sayangnya Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam terhadap Ummatnya. Berdasarkan hitung-hitungan di atas, seandainya dosa harian kita sebanyak 54.000 point, sementara Shalat berjama’ah di Masjid dan dikerjakan awal waktu memberikan kontribusi point sebesar 1.701.060 sehingga jika dikurangi dosa harian tersebut maka masih bersisa sebanyak 1.647.060 point. Point tersebut akan memberikan dampak yang luar biasa bagi kehidupan pelakunya di dunia dan akhirat. Jika seseorang tersebut mendirikannya semenjak dia dikenai kewajiban untuk Shalat (akil baligh), dan konsisten menjaga Shalatnya tersebut. InsyaAllah hidupnya akan penuh dengan kemuliaan dan kebahagiaan di dunia dan terlebih lagi di akhirat, selama dia meninggalkan dosa-dosa besar dan tidak menyekutukan Allah. Apalagi jika amalan-amalan sunnah dia kerjakan. Sungguh sangatlah beruntung orang yang demikian.

Seandainya orang tersebut hidup selama 60 tahun, dan kita hitung kewajiban Shalat sejak dia berusia 10 tahun, dan satu tahun terdiri dari 12 bulan, serta satu bulan kita anggap terdiri dari 30 hari, maka sisa pahala Shalat wajibnya saja setelah dikurangi kemungkinan dia melakukan dosa harian yang tergolong dosa kecil, masih menyisakan pahala kurang lebih sebanyak 1.647.060 point x 12 bulan x 30 hari x 24 jam x 60 menit x 60 detik = 51.230.154.240.000 Point Pahala.

Jikapun dihitung secara materi di dunia, dia pasti akan menjadi orang yang sangat kaya raya dan bahagia. Kalau angka tersebut kita anggap sama dengan nilai Rupiah, berarti dia memiliki kekayaan lebih dari 51 Trilyun Rupiah. Apalagi kalau kita anggap sama dengan Dollar, silahkan hitung sendiri. Namun yang jelas orang tersebut insyaAllah akan jauh lebih bahagia dari orang yang memiliki uang sesuai dengan deret point tersebut. Entah itu disamakan dengan nilai Rupiah ataupun Dollar, ataupun berat perhiasan emas yang dimilikinya, yang pasti orang tersebut akan jauh lebih bahagia. Karena sesungguhnya rahmat dan karunia-Nya tidaklah terhitung jumlahnya.

B.      Kriteria 2 (Dua)

Kita coba contoh kasus orang yang melaksanakan Shalat berdasarkan kriteria 2 ini, yakni Shalat di awal waktu namun dikerjakan sendirian di rumah atau tempat lain. Anggaplah orang tersebut selalu Shalat tepat waktu, namun dikerjakan sendiri saja, dengan alasan udzur atau sakit atau bisa juga alasan takut atau membahayakan jika pergi ke Masjid (Hari gini sebenarnya tidak masuk akal jika alasannya seperti ini). Berdasarkan perhitungan di atas, jika dosa harian (dosa-dosa kecil) yang diperbuatnya baik sengaja ataupun tidak disengaja, sebanyak 54.000 point per hari dan point pahala Shalat kriteria 2 ini sebesar 50.080 Point, maka jika dihadapkan antara pahala Shalat wajib 5 waktu dengan dosa hariannya menghasilkan nilai minus 3.920 Point Dosa. Ingat, minus lho, berarti anda punya hutang.

Jadi, jika Shalat yang kita kerjakan berdasarkan kriteria 2, maka dosa anda tidak sepenuhnya terhapus melainkan masih tersisa sebesar -3.920 Point Dosa. Sisa dosa yang tidak terhapus semuanya ini, yakni sebesar 3.920 jika dibiarkan maka akan bertumpuk terus menerus. Dalam waktu sehari saja sudah menyimpan 3.920 Point dosa, jika selama satu bulan berarti 3.920 x 30 = 117.600, dan selama satu tahun 117.600 x 12 = 1.411.200 Point Dosa. Ini artinya, selama satu tahun tersebut, jika menghitung dosa-dosa ringan saja sementara Shalat wajibnya mengikuti kriteria 2, maka tetap akan menanggung beban dosa sebanyak 1.411.200 Point. Jumlah tersebut sama dengan 1.411.200 detik, yang berarti sama dengan 23.520 menit, sama dengan 392 jam, dan sama dengan 16,3 hari. Ini artinya, dalam setahun tersebut di dunia saat ini, meskipun anda rajin shalat dan tepat waktu, namun dikerjakan sendiri saja (bagi laki-laki) anda akan mengalami masa-masa sulit dan tidak nyaman selama kurang lebih 16,3 hari atau 392 jam. Sementara sisanya adalah biasa-biasa saja, enak tidak terlalu susah pun tidak.

Nah, yang 392 jam inilah ‘neraka’ dunia anda seperti sakit parah, mendapatkan musibah, kecopetan, kerampokan, hati tidak tentram, dikejar-kejar perasaan bersalah, hilang semangat, galau, resah, gelisah dan lain-lain yang membuat anda serba menderita. Namanya juga di neraka, hehe..meskipun masih di dunia. Belum lagi jika di neraka sungguhan. MasyaAllah, sungguh jauh lebih sengsara dan menderita. Jika posisi ini tidak anda ubah segera, yakni dengan merubah kriteria pelaksanaan Shalat menjadi kriteria 1, bukan mustahil pada saat hari penghisaban nanti berat timbangan anda akan condong ke kiri yang artinya anda akan dijebloskan ke neraka sesuai dengan banyaknya dosa anda. Itu baru kita pertemukan antara pahala Shalat kriteria 2 dengan dosa harian yang seringkali tidak disengaja. Apalagi kalau kita ada dosa besarnya, maka jelas posisi timbangan akan semakin berat ke kiri, yang artinya akan semakin lama untuk tinggal di neraka. Jadi, Shalat kriteria 2 ini agaknya kurang dahsyat jika dikatakan sebagai penggempur dosa-dosa kita, soalnya masih menyisakan ‘kotoran’ atau dosa.

C.      Kriteria 3 (Tiga)

Bagaimanakah kondisi orang yang Shalat berdasarkan kriterianya termasuk kriteria 3, yakni yang sering mengundur-undur waktu Shalat wajib dengan sengaja tanpa udzur. Berdasarkan catatan di atas, shalat kriteria 3 ini menyisakan – 21.920 Point Dosa. Jadi, setiap hari seseorang yang mengerjakan shalat tapi senantiasa mengakhirkan waktunya hingga molor beberapa jam dari awal waktu. Ini berarti, setiap hari orang tersebut mengumpulkan ‘dosa’ sebanyak 21.920 Point. Dimana dalam 1 bulan akan menghasilkan dosa sebanyak 657.600 Point, atau dalam setahun sebesar 7.891.200 Point Dosa atau detik sesuai kesepakatan kita bahwa pont terkecil yang bisa kita hitung adalah satuan detik. Jumlah tersebut sama dengan dengan 7.891.200 detik atau 131.520 detik atau sama dengan 2.192 jam atau setara 91,33 Hari atau sama dengan kurang lebih 3 Bulan. Siap-siap saja, dalam setahun, selama 3 Bulan Allah akan memberi azab dunia kepada orang tersebut. Bisa berupa sakit, entah diri kita, istri kita, anak kita, dan lain-lain yang membuat kita tidak merasa nyaman. Pokoknya penderitaan, namanya juga ‘neraka’ dunia.

Betapa banyak kita saksikan orang yang bertahun-tahun berjuang mencari dunia hingga terbeli segala keinginannya atas jerih payah yang dilakukannya. Namun satu saja kekurangannya : Shalatnya bermasalah. Maka hasil jerih payahnya tersebut akan Allah ambil dengan paksa, baik dengan cara yang sangat halus maupun cara yang lebih keras. Sering kita mendengar dan menyaksikan seseorang yang sedang sakit misalnya memerlukan biaya yang tidak sedikit, harta yang dikumpulkan selama bertahun-tahun sedikit demi sedikit ludes terjual hanya dalam waktu singkat untuk mengobati sakitnya. Ini diakibatkan tidak lain karena salah satunya adalah lalai dalam shalatnya.

D.      Kriteria 4 (Empat)

Orang yang termasuk dalam kriteria keempat ini jelas-jelas meninggalkan Shalat wajib lima waktu. Sehingga, jika kita hitung catatan dosa akibat tidak Shalat ditambah dengan dosa harian, maka jumlahnya sebanyak 528.822.000 Point Dosa, atau setara dengan 528.822.000 detik dosa setiap hari. Jumlah tersebut jika kita kalikan selama satu Bulan, maka menjadi 15.864.660.000 detik dosa. Atau dalam setahun setara dengan 190.375.920.000 detik dosa. Jumlah tersebut sama dengan 3.172.932.000 menit atau setara dengan 52.882.200 jam dan sama dengan 2.203.425 hari. Jika dalam satu Tahun kita anggap memiliki jumlah hari sebanyak 360 hari, maka jumlah tersebut setara dengan 6.120,625 Tahun azab yang akan ditimpakan kepada orang dengan kriteria nomor empat tersebut. Itu baru hitung-hitungan selama setahun. Jika orang tersebut diberi umur oleh Allah selama 60 Tahun untuk hidup di bumi, maka, sejak umur 10 tahun dia telah dikenai kewajiban shalat, ini berarti 50 tahun adalah masa kewajiban shalatnya. Jika demikian, maka masa azab di dunia sebanyak 6.120,625 x 50 = 306.031,25 Tahun!!

Orang seperti ini, jika pun Allah beri kekayaan, sudah pasti hatinya akan sangat kering dan hampa, kekayaannya tidak akan pernah dia nikmati sedikitpun. Tidak akan pernah merasa puas terhadap apapun yang ada di dunia, meskipun dia sudah memperoleh segalanya dari dunia. Hatinya akan senantiasa gelisah, hidupnya tidak tentram, tujuan hidupnya tidak jelas. Meski dia mendapatkan popularitas serta pujian di dunia, maka Allah akan hinakan dia. Hartanya yang berlimpah tidak akan membahagiakan hatinya, bahkan sepeser pun harta tersebut tidak akan Allah izinkan untuk dinikmatinya, padahal secara hukum dunia harta tersebut miliknya. Kekuasaannya tidaklah akan membawa dia kepada kesejahteraan dirinya, malah akan membawa kesengsaraan bagi dirinya hingga dia meninggal sekalipun. Istri yang cantik tidak pernah membuatnya merasa cukup, Allah hancurkan dia dengan skandal-skandal yang sangat memalukan sehingga membuat istri dan anak-anaknya terluka. Betapa sangat dahsyat masa azab golongan keempat ini, sehingga tidak berbeda dengan keadaan atau kondisi orang kafir. Benarlah Rosulullah pernah bersabda bahwa pembeda antara seorang Muslim dan Kafir adalah Shalatnya. Untuk itu, marilah kita benahi Shalat kita sesuai petunjuk Allah dan Rosul-Nya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.

One thought on “Studi Kasus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s