Kepada Allah saja kita bergantung.Titik.

Jika kita menolong agama Allah, maka pasti kita akan ditolong oleh-Nya. Jika kita menjaga-Nya, niscaya Allah juga akan menjaga kita. Namun sebaliknya, jika kita melalaikan-Nya, maka siap-siap saja Allah lalaikan segala urusan kita. Allah berikan keberhasilan-keberhasilan yang semu. Allah hadirkan kemenangan-kemenangan yang semu, namun tiada pertolongan dan hidayah Allah. Betapa banyak orang yang mendapatkan tender ataupun proyek merasa bahwa dia telah sukses dan mendapatkan kemenangan dalam usahanya, namun jika itu diperoleh dengan tanpa melibatkan Allah, maka siap-siap saja semua itu akan menjadi kemenangan ataupun keberhasilan yang semu. Bukankah Allah di dalam Surat Al Ikhlas mengatakan bahwa Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu! Jika kita tidak menggantungkan apapun kepada-Nya, dan menggantungkan apapun yang anda inginkan dan anda miliki kepada selain-Nya, siap-siap saja anda akan dipermainkan oleh apa-apa yang anda gantungi tersebut. Maksudnya kurang lebih begini, bila seseorang menggantungkan segala sesuatu kepada pimpinannya, dalam hal ini mengutamakan dia, mentaati perintah dia, dan merasa bahwa dialah yang memberi kita gaji, sehingga kita bisa memiliki ini dan memiliki itu. Siap-siap saja anda akan dipermainkan oleh apa yang anda gantungi tersebut. Sejatinya, apapun yang kita ‘gantungi’ kepada selain Allah, tidak akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan, melainkan hanya penderitaan dan penderitaan. Masih belum jelas soal gantung-menggantung? Misalkan saja anda menggantungkan hati anda kepada anak anda melebihi sikap anda terhadap Allah, akibat sangat sayangnya kita sama anak kita, sehingga ketika dia menginjak aqil baligh tidak juga kita perintahkan untuk Shalat, berarti anda telah ‘dikalahkan’ oleh kasih sayang anda yang berlebihan terhadap anak anda, sehingga tidak mengindahkan perintah-Nya. Maka, siap-siap saja anak anda tersebut akan menjadi ujian bagi anda. Hati anda akan selalu was-was dan gelisah karena anak anda.

Sama halnya dengan menggantungkan diri kita kepada pekerjaan, Allah akan buat hati dan pikiran kita, bahkan waktu dan tenaga kita dikuras habis untuk pekerjaan tersebut. Semakin kita mencintai pekerjaan tersebut dan melalaikan Allah (contohnya melalaikan perintah Shalat Wajib), maka Allah akan semakin memberikan ambisi yang rakus guna menduduki semakin tinggi jabatan di perusahaan, misalnya. Akan Allah berikan kepada kita hati yang condong pada pekerjaan ataupun jabatan tersebut. Pekerjaan tersebut segalanya bagi kita. Sehingga hidup anda akan gelisah dan gelisah. Setiap ganti pimpinan perusahaan/kantor tempat anda bekerja, hati anda dag dig dug, setiap dengar kata mutasi, jantung anda serasa mau copot. Baru dengar kabar akan dimutasi, sudah pingsan duluan.  Tapi herannya bukan anda yang pingsan, tapi istri anda dulu baru kemudian anda ikut-ikutan pingsan. Hehe. Itulah jika kita menggantungkan apa-apa kepada selain Allah. Tidak akan membawa kebaikan apapun, melainkan hanya kegelisahan dan kegelisahan., kekurangan dan kekurangan. Never enough. Tidak pernah cukup.  “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”.[1]

Betapa banyak diantara kita yang berangkat kerja dari sebelum matahari terbit dan kembali ke rumah setelah matahari terbenam, bahkan hingga sampai larut malam. Kita tidak sempat menyaksikan anak kita tumbuh dan berkembang setiap hari. Betapa banyak diantara kita tidak pernah tahu mulai kapan anak kita belajar berjalan hingga dia benar-benar mampu berjalan. Keceriaan keluarga hanya bisa dinikmati saat-saat libur saja, itu pun jika tidak ada kesibukan lain. Dalam sebulan kita hanya mampu bercengkrama selama 8 hari bersama keluarga, sisa-nya 22 hari kita habiskan di luar, di tempat kerja kita. Ketika kita merasa sudah mendapatkan semuanya, ya, semua kekayaan dan materi sudah kita dapatkan, kesuksesan dalam karir sudah kita lampaui, saat usia senja ternyata semua itu tidak bisa kita nikmati lagi, karena tubuh ini sudah tidak mampu memakan makanan-makanan enak lagi. Kita hanya tergolek lemah, makan pun cuma boleh tahu dan tempe saja. Nasi pun cuma sekepal, dan harus diet agar gula darahnya tidak terus melonjak. Niatnya kalau sudah tua mau getol beribadah, mau rajin ke Masjid, mau rajin ke pengajian, tapi ternyata tubuh ini sudah tidak mampu lagi berdiri secara tegak. Jalan pun harus dibopong. Hilanglah kesempatan untuk Shalat berjama’ah di Masjid. Menyesal-lah kenapa tidak sedari muda menggiatkannya. Kita Rollback, pasti ada yang salah ini. Ayo, kita Rollback kehidupan kita. Jangan tunggu tua untuk pergi ke Masjid dan beribadah dengan khusyu. Mulailah saat ini juga, selama badan ini masih mampu. Sungguh menyedihkan jika kita sampai demikian. Apalah dunia ini yang hanya sekedar permainan dan senda gurau belaka, secukupnya sajalah kita ambil darinya jika kita khawatir akan terpedaya dengan ‘keindahannya’ yang palsu. Negeri Akhiratlah yang kekal selama-lamanya.

Selidik punya selidik, ternyata jika kita cermati, semua itu terjadi akibat dari Shalatnya yang ‘kurang beres’. Pasti ada yang salah. Hari gini, mendiagnosa penyakit sudah sedemikian canggih dan cepat. Nah, bagaimana dengan mendiagnosa masalah-masalah kehidupan? Tentu dengan Shalat. Lha kok bisa? Ya iya lah. Allah saja ‘mendiagnosa’ kita apakah berhak masuk surga atau masuk Neraka kan lewat Shalat. Jika beres Shalatnya, maka beres pula seluruh amal lainnya maka silahkan melenggang ke surga, dengan syarat tidak berbuat syirik. Namun, jika Shalatnya kagak beres, nah ini dia, repot kita, bakal lama-lah kita dihisab oleh Allah. Meskipun Allah memerintahkan malaikat-Nya supaya ‘dikorek-korek’ amalan-amalan sunnah kita, tiada yang lebih paten selain Shalat wajib yang lima waktu[2]. Hayo, mau pilih jalan tol apa pilih jalan ajrut-ajrutan? Hehe … Wallau’alam.


[1] QS Al Ikhlas : 2

[2] Dari Anas bin Malik, r.a, Sesungguhnya Rosululloh SAW pernah bersabda : “ Amalan yang pertama kali dihisab dari seseorang pada hari Kiamat kelak adalah shalat. Jika shalatnya itu baik, akan baik pula seluruh amalnya dan jika rusak shalatnya itu, akan rusak pula seluruh amal perbuatannya”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s