Kenyataan Hidup = Kondisi Ibadah?

Sejak lama, tepatnya sejak kita menginjak masa akil baligh, kita sudah diperintahkan untuk melaksanakan Shalat wajib yang lima waktu. Bahkan ditambah Shalat-Shalat sunnah yang mengiringinya yakni Shalat sunnah rawatib (atau dikenal juga Shalat qobla dan ba’diyah). Ditambah sesekali di tengah malam kita berdo’a melalui Shalat malam, terutama jika sedang mengalami kondisi sulit atau ketemu jalan buntu dalam menghadapi persoalan kehidupan. Tahun berganti tahun, hingga kita dewasa dan semakin banyak beban kehidupan yang kita tanggung. Seringkali kita menghadapi permasalahan yang berat, ditimpa bermacam ujian dan cobaan. Dari mulai sekolah yang tidak sesuai harapan, kondisi perekonomian keluarga yang repot, gairah dan semangat hidup yang mengendur, sulitnya mencari pekerjaan, sulitnya mendapatkan jodoh yang sesuai harapan, dan berbagai macam ketidaknyamanan maupun kesulitan dalam hidup yang kita alami. Serasa hidup penuh dengan kegelisahan serta kehampaan. Padahal kita sudah berusaha dengan keras dalam segala hal, sebaik mungkin guna mewujudkan harapan demi harapan. Namun seringkali kita terpuruk dalam kegagalan demi kegagalan, ujian dan cobaan seolah tiada henti-hentinya menghantam kehidupan kita. Kehidupan seolah stagnan, alias ‘gitu-gitu aja’. Apa yang salah dengan semua itu?

Padahal, selain bekerja keras kita pun berusaha menjadikan diri kita menjadi orang baik yang sesuai dengan tuntunan agama, agar hidup kita ditolong oleh Allah azza wa jalla. Seringkali kita berguman, “hmm, mungkin semua ini adalah cobaan dari Allah”. Baguslah jika kita menyadarinya dan berlaku sabar sebagai pelipur lara tersebut. Namun, lama-lama habis juga kesabaran kita, jebol juga keimanan kita dan seringkali kita pada akhirnya protes terhadap Sang Pengatur Kehidupan, Allah azza wa jalla. Kita seringkali berdalih, “ Ya Allah, saya senantiasa mengikuti perintah Engkau, dan berusaha sebisa mungkin sekemampuan saya menghindari apa-apa yang Engkau haramkan, saya juga Shalat sebagaimana yang Engkau perintahkan, berpuasa di Bulan Ramadhan, membayar zakat, cuman memang belum naik haji karena belum sanggup “. Lanjut, “ Jangankan naik haji ya Allah, untuk mewujudkan hidup sejahtera saja rasanya susah payah”. Namun, benarkah kita sudah berbuat sesuai dengan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang oleh Allah dan Rosul-Nya? Sekalinya enak (kelihatannya) kehidupan saya, eh hutangnya banyak … Hehe

Ayo kita bedah, kita buka-bukaan (maksudnya jujur pada diri sendiri), dengan demikian kita akan mudah melakukan instropeksi diri, sehingga ke depan kita akan mulai memperbaiki hidup kita dan mewujudkan segala harapan dan impian kita, tentunya dengan ridha dan pertolongan Allah. Pertama, kita cek dulu benar tidak nich syahadat kita? Lha bener, kan syahadat itu bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Bahasa Arab-nya sudah pada hapal di luar kepala kan? Nah, bener nggak nich kita sudah bersyahadat dengan benar? Ucapan tersebut (dua kalimah syahadat; Asyhadu anla ilahailallah wa asyhadu anna muhammadan abduhu warosuluhu) memiliki konsekuensi dimana kita berserah diri kepada Allah dan Rosul-Nya, dengan demikian kita diwajibkan untuk mengikuti segala kehendak-Nya serta menjauhi apa yang dilarang-Nya, selain itu kita juga dituntut untuk melaksanakan segala yang sudah Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ajarkan dan sampaikan yakni melalui kitab suci AL Qur’an yang berisi firman Allah dan Hadits yang berisi segala ucapan dan perbuatan Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selama hidupnya, atau dikenal dengan istilah sunnah Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Sudahkah demikian? Yakni kita berpegang teguh terhadap Al Qur’an dan As Sunnah?

Baiklah, kita bedah sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah, seperti apa konsekuensi kita sebagai seorang Muslim yang harus taat kepada Allah dan Rosul-Nya. Setelah kita mengucapkan dua kalimah syahadat, perintah selanjutnya yang sesuai dengan rukun Islam adalah perintah Shalat wajib yang lima waktu. Bagaimanakah Shalat kita? Apakah kita sering mengerjakannya ataukah tidak mengerjakannya sama sekali? Atau sering kita mengerjakannya, namun seringkali tidak tepat waktu alias menyepelekannya? Atau mengerjakannya selalu tepat waktu namun dilakukan sendiri dan tidak berjama’ah? (Bagi para ikhwan=laki-laki).

Sesungguhnya perintah Shalat adalah wajib bagi setiap Muslim yang sudah menginjak masa Aqil Baligh. Tidak ada udzur sedikitpun, meskipun yang bersangkutan sakit. Selama dia masih berakal dan Mukallaf (sudah dikenai hukum syari’at Islam), maka dia wajib mengerjakannya. Hanya saja ada keringanan dalam hal pelaksanaannya. Sungguh berdosa bagi setiap Muslim yang meninggalkannya, dan sebagian ulama berpendapat bahwa meninggalkan Shalat wajib hukumnya kafir bagi yang mengetahui hukum wajibnya.

Dan kemudian, Shalat lima waktu itu ternyata wajib dilakukan secara berjama’ah di Masjid, bagi setiap Ikhwan Muslim yang Mukallaf dan berakal sehat. Banyak dalil yang mengatakan demikian. Tidak ada udzur, kecuali bagi yang sakit, itu pun sakitnya berupa sakit yang tidak memungkinkan baginya untuk pergi ke Masjid untuk ikut melaksanakan Shalat berjama’ah. Kalau sekedar pilek dan batuk atau demam-demam sedikit sih, rasa-rasanya masih bisa berjalan ke Masjid. Bahkan di zaman para sahabat, seringkali sahabat yang sedang sakit namun masih bisa berdiri untuk ikut Shalat wajib berjama’ah di Masjid ditandu oleh sahabat lainnya. Betapa para sahabat mengutamakan benar perintah Allah yang satu ini. Bahkan ada seorang buta yang rumahnya jauh dari Masjid dan dia tidak mendapatkan seorang penuntun yang cocok dengannya meminta keringanan kepada Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam untuk tidak melaksanakan Shalat wajib berjama’ah dengan tegas ditolak oleh Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau tetap mewajibkannya[1]. Padahal rumah sahabat yang buta tersebut jauh dari Masjid, kota Mekkah waktu itu gelap gulita di waktu malam, belum lagi ancaman binaatang buas yang mengintai. Hal tersebut menyiratkan betapa wajibnya Shalat berjama’ah tersebut. Bahkan Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berniat membakar rumah sahabat yang tidak mengikuti Shalat wajib berjama’ah di Masjid[2]. Betapa pentingnya di mata Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam Shalat berjama’ah tersebut. Bayangkan saja, Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyayangi ummatnya, bahkan sampai meninggal pun Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam masih menyebut-nyebut ummatnya, namun saking (begitu sangat) sayangnya terhadap ummat Islam, Beliau sampai-sampai bertindak ingin membakar rumah orang yang tidak ikut Shalat berjama’ah di Masjid. Kita mah, hujan gerimis saja sudah ogah ke Masjid, apalagi hujan badai?  Mengapa bisa demikian? Mengapa kita merasa sungkan dan enggan untuk melaksanakan Shalat wajib berjama’ah di Masjid. Tidak mempan-kah bagi kita bahwa janji Allah yang mengatakan pahala Shalat wajib berjama’ah lebih tinggi derajatnya sebanyak 27 kali dibandingkan Shalat yang dikerjakan sendiri?

Tidaklah mengherankan jika ternyata banyak diantara kita yang masih menganggap bahwa Shalat berjama’ah di Masjid itu bukanlah suatu kewajiban masing-masing individu. Ada sebagian yang mengatakan bahwa Shalat wajib berjama’ah merupakan fardhu kifayah, dimana apabila ada yang mengerjakannya maka kewajiban bagi masing-masing individu menjadi gugur. Ada lagi yang mengatakan bahwa Shalat wajib berjama’ah di Masjid itu hanyalah sunnah muakkad bagi yang mampu melaksankannya, jadi tidak apa-apa jika pun dikerjakan sendirian saja. Bahkan ada lagi pendapat yang mengatakan, sama saja Shalat di rumah atau sendiri dengan Shalat berjama’ah di Masjid, hanya saja Shalat berjama’ah itu lebih utama saja. Titik.

Wah, benarkah demikian? Tidakkah Al Qur’an dan Hadits yang mewajibkan Shalat berjama’ah di Masjid itu mereka membacanya? Tidakkah para sahabat yang dengan gigih memperjuangkan dan menegakkan Shalat berjama’ah di Masjid meskipun harus ditandu memahami betapa sangat pentingnya Shalat wajib tersebut dikerjakan secara berjama’ah di Masjid? Atau apakah kita merasa bahwa kita jauh lebih paham dibandingkan para Sahabat? Lantas, bagaimana dengan kisah seorang buta yang rumahnya jauh dari Masjid, dan tidak memiliki seorang pemandu yang cocok, tetap diwajibkan oleh Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam untuk mengerjakan sahalat wajib tersebut berjama’ah di Masjid? Atau, mengapakah pada saat berperang Rosulullah tetap mewajibkan seluruh pasukannya untuk shalat berjamaah, meskipun shaff-nya diatur sedemikian rupa sehingga seluruh pasukan dapat menyelesaikan shalat secara berjama’ah bersama-sama tanpa lepas dari kewaspadaan terhadap musuh? Hadits-hadits tersebut merupakan hadits shahih yang banyak diriwayatkan oleh para sahabat (biar fokus, nanti silahkan baca pada bagian lain di buku ini tentang hadits-hadits tersebut).

Lantas, mengapa kita terkesan (kebanyakan) masih ngeyel bahwa Shalat berjama’ah itu tidak wajib dikerjakan oleh setiap Muslim, melainkan hanya lebih utama saja dikerjakan di Masjid. Hal ini terbukti dengan kosongnya Masjid pada waktu jam-jam sibuk dengan urusan dunia, yakni waktu Zhuhur dan ‘Ashar meskipun pada waktu shubuh, isya, dan maghrib pun segitu-segitu saja. Itu pun didominasi oleh orang-orang tua, yang tergolong sudah di ‘halte terakhir’ sebelum sampai ke tujuan. Hehe. Iya lah, coba perhatikan di MasjidMasjid kebanyakan, biasanya hanya orang-orang tua saja yang rajin ke Masjid. Bahkan orang tua-nya juga itu-itu saja. Yang adzan dia, yang qomat dia, eh yang jadi imam pun dia, bahkan lebih parah lagi yang jadi imam sekaligus makmum dia sendiri. Waduh.waduh. Bener lho, apalagi kalau turun hujan meski sekedar gerimis. Sedemikian parahkan? Memang. Coba anda perhatikan. Tapi alhamdulillah tidak semua seperti itu, masih ada Masjid yang ramai dengan jama’ah, namun kebanyakan yang memang seperti tadi itu. Ah, yang lain kan pada sibuk, ada yang kerja, ada yang dagang, ada yang kuliah, dan lain-lain. Memang betul, tapi kalau tiba waktu Shalat Jum’at, alhamdulillah penuh. Jangan-jangan banyak juga yang melaksanakan Shalat hanya di waktu Shalat Jum’at saja. Astaghfirullah, mudah-mudahan tidak. Coba seandainya setiap waktu Shalat ramainya jama’ah seperti ramainya Shalat Jum’at yang sampai memenuhi halaman Masjid. Wah sungguh indah dan membanggakan. InsyaAllah kalau demikian kita akan berjaya, Masjid akan selalu ramai. Bisa jadi, kegiatan perekonomian akan diawali di Masjid. Lihatlah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid nabawi di Madinah. Betapa ramai terus daerah di sekitarnya yang menopang Masjid dan perekonomian pun demikian hidup dan berkembang, seakan-akan pasar yang tidak pernah tutup. Itulah keberkahan yang Allah berikan.

Nah, sebelum kepanjangan cerita sana-sini-nya, kita balik lagi ke fokus bahasan kita. Mengapa Masjid di kita selalu sepi? Jawabannya ya itu tadi, kebanyakan dari kita menganggap Shalat wajib tidak mesti dikerjakan secara berjama’ah di Masjid. Artinya bukan merupakan kewajiban masing-masing individu. Sebenarnya kebanyakan dari kita mengakui dan sadar betul bahwa Shalat berjama’ah itu hukumnya wajib dan lebih utama 27 derajat dibandingkan Shalat yang dikerjakan sendiri. Namun, entah karena kurangnya pemahaman, atau sikap cuek terhadap urusan akhirat, mengakibatkan kita seringkali berpikir, bahwa urusan akhirat mah entar-entaran aje, nanti kalau sudah kaya, sudah tenang, sudah tidak ada lagi beban kehidupan, ntar aje kalau sudah pensiun, atau urusan akhirat mah masih sangat jauh, dan lain-lain yang mengakibatkan kita menyimpulkan bahwa urusan dunia dengan akhirat tidak berkaitan secara langsung. Akhirat kesono, dunia mah kaditu. Urusan akhirat mah gimana nanti saja, yang penting kan kehidupan yang kita jalani saat ini. Nah begitulah kebanyakan orang-orang berseloroh. Jangan-jangan anda juga demikian ya?!…Hayo ngaku, Hehe, tapi saya yakin kok, sebentar lagi jika anda memang berpikiran demikian, insyaAllah akan berubah setelah mengetahui korelasi antara ibadah Shalat dengan kehidupan kita saat ini (dunia) dan kehidupan nanti (akhirat). (wallahu’alam). InsyaAllah nanti kita lanjut ya..


[1]  Dari Abu Hurairah r.a: Ada seorang laki-laki buta menghadap Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata: Ya Rasulullah, sungguh aku ini tidak mempunyai seorang penuntun yang menuntunku ke Masjid. Maka beliau memberi keringanan padanya. Ketika ia berpaling pulang beliau memanggilnya dan bertanya: “Apakah engkau mendengar adzan untuk sholat?” Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Kalau begitu, datanglah.” (Riwayat Muslim).

 

[2] Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya ingin rasanya aku menyuruh mengumpulkan kayu bakar hingga terkumpul, kemudian aku perintahkan sholat dan diadzankan buatnya, kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang itu, lalu aku mendatangi orang-orang yang tidak menghadiri sholat berjama’ah itu dan aku bakar rumah mereka. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara mereka tahu bahwa ia akan mendapatkan tulang berdaging gemuk atau tulang paha yang baik niscaya ia akan hadir (berjamaah) dalam sholat Isya’ itu”. (Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari). (Shahih Muslim No.1040)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s