Alergi Shalat Berjama’ah?

Untuk mendirikan shalat berjama’ah di mesjid, khususnya bagi kaum laki-laki sebenarnya memang sangat berat. Apalagi jika selama ini kita berpaham bahwa shalat di rumah atau di mesjid sama saja, cuma memang lebih utama di mesjid. Banyak para ulama pun berfikiran demikian. Sesungguhnya shalat wajib yang lima waktu hukumnya wajib dikerjakan secara berjama’ah bagi setiap laki-laki muslim yang mukallaf dan berakal sehat. Hal ini dinyatakan dalam hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang menceritakan bahwa ada seorang buta yang rumahnya cukup jauh dari mesjid dan tidak memiliki seorang penuntun yang cocok untuknya, meminta keringanan kepada Nabi untuk mendirikan shalat di rumah saja, mengingat rumahnya jauh, jalanan gelap, kota mekkah pada waktu itu sangat rawan binatang buas dan banyak pepohonan yang kemungkinan besar menghalangi jalannya. Namun jawaban Rosulullah adalah orang tersebut tetap berkewajiban untuk mendatangi mesjid. Bahkan Rosulullah sangat berkeinginan untuk membakar rumah orang yang tidak mengerjakan shalat berjama’ah di mesjid. Saat berperang pun, seluruh pasukan wajib mengerjakan shalat secara berjama’ah meskipun dikerjakan secara bergantian sesuai urutan shaff-nya. Bahkan Allah SWT berfirman :

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (shahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata…”. (An-Nisa`:102).

Maka apabila Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk melaksanakan shalat berjama’ah dalam keadaan takut maka dalam keadaan aman adalah lebih ditekankan lagi (kewajibannya). Dalam masalah ini berkata Al-Imam Ibnul Mundzir: “Ketika Allah memerintahkan shalat berjama’ah dalam keadaan takut menunjukkan dalam keadaan aman lebih wajib lagi.” (Al-Ausath fis Sunan Wal Ijma’ Wal Ikhtilaf 4/135; Ma’alimus Sunan karya Al-Khithabiy 1/160 dan Al-Mughniy 3/5).

Apalagi di zaman kita saat ini, mesjid ataupun mushola banyak dimana-mana, namun kita lebih senang melaksanakan shalat di rumah. Itu pun seringkali dikerjakan bukan di awal waktu, melainkan mepet-mepet di injury time. Waktu zhuhur dikerjakan menjelang waktu shalat Ashar, demikian shalat ashar dikerjakan menjelang masuk waktu shalat maghrib, demikian juga waktu maghrib dikerjakan menjelang waktu shalat Isya. Lebih parah lagi malah waktu shalat isya bablas jam 6 pagi dikerjakan bersama shalat shubuh…hehe, memang boleh? Tentu saja tidak boleh. Ya itulah kebanyakan kita. Oleh karena itu mesjid seringkali kosong.

Sesungguhnya memang berat melaksanakan shalat berjama’ah di mesjid. Mendengar kata shalat berjama’ah saja rasa-rasanya emoh, ogah, dan berusaha menghindari pembahasan tentang kewajiban shalat berjama’ah di mesjid. Lebih senang dengan kondisinya saat ini. Janganlah kita sebagaimana apa yang dikatakan oleh Allah ; punya mata tapi tidak mampu melihat, punta telinga tapi tidak mampu mendengar. Pada zaman Rosulullah, para sahabat yang sakit bahkan sampai ditandu menuju mesjid karena betapa mengetahui pentingnya shalat berjama’ah tersebut dilakukakn di mesjid. Kita mah biasanya hujan gerimis saja sudah membatalkan niat kita untuk mengurungkan shalat berjama’ah di mesjid.

Wajib.wajib dan wajib. Hukum shalat berjama’ah di mesjid bagi kaum laki-laki. Sementara bagi kaum wanita sebaik-baik shalat adalah yang dikerjakan di rumah. Tapi tetap harus di awal waktu, karena itulah yang paling utama. Kita perlu belajar sedikit demi sedikit untuk berteguh hati mendirikan shalat berjama’ah di mesjid. Betapa jika kita sudah membiasakannya, hati dan fikiran akan selalu terpatok ke mesjid. Bayangkan saja, rutinitas seorang yang membiasakan diri untuk shalat tepat waktu dan dikerjakan secara berjama’ah di mesjid. Sepertiga malam dia sudah bangun, guna melaksanakan shalat tahajud dan sekaligus persiapan agar shalat shubuhnya tidak terlewat. Anggaplah shubuh jam 04.30 wib. Selesai shalat shubuh, dia bersiap diri menyambut pagi dengan ceria, kemudian sebelum beraktifitas mempersiapkan diri untuk shalat dhuha. Selepas dhuha, misalnya dikerjakan jam 9 pagi, sekitar 2-3 jam kemudian adzan dhuhur sudah berkumandang dan dia siap-siap untuk mendirikan shalat dhuhur di mesjid. Selepas shalat dhuhur, sekitar 1,5-2 jam dia sudah siap-siap untuk mendirikan shalat ashar di mesjid yang waktunya sekitar jam 15.30 Wib. Rehat sejenak setelah shalat ‘ashar, maka shalat maghrib pun tiba yang waktunya sekitar 1,5-2 jam dari waktu ‘ashar. Apalagi waktu shalat isya, waktunya sangat dekat dengan shalat maghrib yang terpisah kurang dari satu jam. Setelah shalat isya sejenak menikmati malam dan beristirahat untuk tidak tidur terlalu larut malam agar tidak kesiangan untuk shalat tahajud kembali dan mengulang rutinitas sebagaimana biasanya. Shalat seperti ini, insyaAllah benar-benar akan menjadi shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar. Bagaimana tidak, lagi asyik-asyik bekerja, eh, waktu shalat sudah tiba. Selesai shalat dan lagi asyik-asyiknya melanjutkan pekerjaan, eh, adzan sudah berkumandang lagi. Kemudian melanjutkan aktivitas, dan tak terasa waktu shalat berikutnya sudah memanggil. Betapa orang yang demikian hati, fikiran, dan langkahnya akan selalu tertuju ke mesjid (ke Allah). Ia akan senantiasa galau jika di tengah perjalanan, dan sudah hampir masuk waktu shalat, kendaraannya terjebak macet. Tapi kalau kita memang sudah terbiasa mendirikan shalat berjama’ah di mesjid, biasanya akan Allah lancarkan jalannya. Masya Allah, sungguh beruntung jika kita mampu mendirikan shalat berjama’ah secara konsisten.

Lihatlah, betapa waktu kita ternyata sangat padat untuk diisi dengan shalat. Rutinitas tersebut akan terasa jika kita mendirikan shalat wajib secara berjama’ah di mesjid. Jika kita sering lalai shalat, biasanya merasa santai-santai saja. Shalat dhuhur yang seharusnya dikerjakan jam 12.15 misalnya, dia kerjakan jam 14.30, sedangkan shalat ashar yang seharusnya jam 15.30, dia kerjakan jam 17.15. Nah, orang yang mengerjakan shalatnya seperti ini akan merasa santai-santai saja, bahkan saking santainya malah shalatnya bablas.

Tidak heran, cara Allah melakukan seleksi pada hamba-Nya pada saat hari perhitungan nanti ya melalui amalan shalatnya. Jika amalan shalatnya bagus, maka akan bagus juga seluruh amalan lainnya dan dia dinyatakan telah sukses!! sebaliknya orang yang shalatnya amburadul, maka sesungguhnya dia akan merugi. Masih mending jikalau amalan ibadah lainnya dikerjakan dan sering berbuat kebaikan semasa hidupnya di dunia, maka para malaikat akan kumpulkan amalan-amalan tersebut untuk menambal amalan shalatnya yang kurang. Wah, repot deh kalau kita sudah dihisab demikian. Selagi kita saat ini masih di dunia, ayolah kita dirikan shalat wajib di awal waktu dan dikerjakan secara berjama’ah di mesjid. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s