Shalat : Kunci Dunia = Akhirat (Surga)

Nah, mengapa sedemikian pentingnya amalan Shalat wajib yang lima waktu tersebut bagi setiap Muslim? Sehingga amal yang pertama kali dihisab di yaumil akhir nanti adalah amalan Shalat-nya, jika baik maka baik pula seluruh amalnya, dan dia telah sukses! Namun, jika amalan Shalatnya rusak, maka akan rusak pula seluruh amalnya.[1] Tapi Allah mah Maha Penyayang, Dia perintahkan malaikat-malaikatnya untuk mengeluarkan tabungan amal sunnah kita. Namun demikian, prosesnya pasti lebih lama, plus dag dig dug. Wah, betapa repotnya kita pada saat itu. Hanya orang-orang yang amalan Shalatnya bagus-lah yang beruntung, mudah-mudahan kita termasuk di dalamnya. Oleh karena itu, selagi masih ada kesempatan, marilah kita bersama-sama memakmurkan Masjid, menghidupkan Shalat wajib berjama’ah di Masjid menjadi bergairah dan semangat. Dengan sendirinya akan tercipta komunitas islami seperti pada zaman Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat yang hidupnya tidak jauh dari Masjid. Sayangnya, dewasa ini, kita mah seringnya jauh-jauh dari Masjid. Lebih sering ngadem di mal daripada selalu standby di Masjid. Merasa lebih keren ke mal daripada ke Masjid. Betapa indahnya jika Masjid ramai, pasti akan berdatangan orang-orang yang berjualan kopiah, sarung, makanan, minuman, bahkan Hp dan lain-lain. Betapa sering kita lihat jika Shalat Jum’at tiba, MasjidMasjid besar seringkali ramai dan dipadati oleh jama’ah. Demikian pula pedagang, sudah barang tentu merapat ke Masjid, sehingga segala aktivitas perdagangan ada di sana. Nah, jika kondisinya sama dengan setiap Jumatan atau bahkan seperti Shalat Ied, niscaya Islam akan bangkit baik dari segi perekonomian, persatuan, dan kerukunan. Betapa tidak, shubuh hari sudah ramai, menjelang Zhuhur jama’ah mendirikan Shalat dhuha, kemudian Shalat Zhuhur, selepas Zhuhur sekitar 2 jam-an sudah berkumandang adzan ‘Ashar, kemudian magrib dan isya pun tiba. Malam pun ramai oleh orang-orang yang mendirikan Shalat malam. Subhanallah. Mungkinkah? InsyaAllah.

Mungkin saja, jika setiap orang memahami dan menyadari dengan sepenuh hati akan keutamaan Shalat wajib berjama’ah. Bukan keutamaan, sudah tidak mempan didengar oleh kita, mungkin kita ganti dengan kedahsyatan Shalat wajib berjama’ah. Seseorang nyeletuk, Ah, kagak ngefek di dunia mah, enter-entaran itu mah ngefek-nya di akhirat nanti. Busyet dah, sudah diterangkan di atas masih kurang paham juga. Baiklah. Baiklah, Sami’un. Ayo kita selami lagi betapa dahsyat dan pentingnya Shalat wajib dikerjakan secara berjama’ah di Masjid. Biar ente paham. (Hehe..becanda, Sami’un ini tokoh imajiner yang selalu berusaha matah-matahin jawaban saya. Maaf ya kalau ada yang kebetulan namanya sama. Kayaknya dia gak puas dengan jawaban yang ada). Baiklah, sami’un ini sangat kritis, dan masih belum yakin juga akan kedahsyatan sahalat wajib berjama’ah.

Begitulah, Sami’un itu seringkali berpikir hitung-hitungan sih, dia merasa akhirat itu masih jauh. Jauuuuhhh banget, katanya. Apalagi Sami’un masih muda, katanya belum juga dapet jodoh, belum juga punya anak, belum juga kaya, belum juga pergi haji. Nanti aja lah Shalat mah rajinnya kalau udah tua saja, kalo udah haji, katanya. Kalo udah adem, kalo udah banyak duit, kalo udah punya rumah sendiri, kalo udah punya mobil impian, kalo udah punya istri cantik, deelel. Waduh. Waduh. Jangan-jangan fenomena mengapa Masjid kebanyakan jama’ahnya sudah tua-tua, mungkin semuanya berpikiran sama dengan si Sami’un? Wah, harus diubah nich mindset-nya, alias pola pikirnya. Tapi bagaimanapun, merubah pola pikir akan lebih gampang jika tau, ngerti, paham, dan menyadari apa arti penting Shalat wajib berjama’ah di Masjid.  Bingung juga ya, gimana caranya biar si Sami’un ini paham, dan segera meng-install program wajib Shalat berjama’ah di Masjid di dalam otaknya.

Kebanyakan orang, tentu akan paham dan bergegas serta bertindak jika segala sesuatu itu tampak nyata dan riil bermanfaat baginya. Misalnya saja pernah ada semacam test psikologis terhadap anak-anak SD. Seorang guru memberikan tugas kepada anak-anak tersebut, begini kurang lebih kalimatnya ; “Anak-anak, minggu depan kita akan praktik Shalat. Barangsiapa yang rajin ke Masjid untuk Shalat, nanti akan dapat pahala yang banyak”. Bagaimana respon mereka? Adem ayem saja. Cool. Cuex. Terkesan kurang peduli, tampak dari respon mereka yang ‘biasa-biasa saja’. Tapi ternyata sang guru tersebut kreatif juga, seketika dia ubah kalimatnya menjadi seperti ini : “ Anak-anak, minggu depan kita akan praktik Shalat. Barangsiapa yang rajin ke Masjid, maka dia akan mendapatkan nilai 100, otomatis nanti akan membantu nilai raport kalian supaya bagus.” Kontan anak-anak tersebut semangat, tampak wajah mereka ceria dan sangat antusias. Nah, pada contoh di atas, ‘pahala yang banyak’ masih belum bisa dicerna oleh benak mereka, namun sesuatu yang lebih riil seperti nilai yang tinggi, 100 misalnya, lebih bisa mereka rasakan manfaatnya saat ini. Karena dengan mendapatkan nilai yang tinggi, maka di akhir tahun raport mereka akan bagus. Anda mungkin bergumam, ya iya lah, mereka kan masih SD dan pola pikirnya masih sederhana. Eit, jangan salah terkadang sama saja kita pun sebagai orang yang dewasa bahkan sudah tua, pola pikirnya tidak jauh berbeda daripada mereka.

Contohnya apabila pimpinan di tempat anda bekerja mengatakan bahwa karyawan yang rajin untuk bekerja lembur maka akan mendapatkan penilaian yang bagus dan akan memiliki karir yang bagus dan peningkatan gaji. Yakinlah, kata-kata pimpinan ini kurang ada efeknya, kecuali jika kata-katanya seperti ini, barangsiapa yang bekerja lembur, per jamnya akan mendapatkan bayaran tambahan sebesar Rp.100.000,-. Sudah pasti karyawan akan berebut untuk mengambil kerja lembur. Padahal tujuan pimpinan adalah sama, namun kalimat kedua akan sangat berdampak bagi karyawan. Ini adalah masalah psikologis.

Tak jauh berbeda dalam hal Shalat. Hanya sedikit yang memahami betapa luar biasanya pahala Shalat bagi orang yang mengerjakannya secara berjama’ah dan tepat waktu. Lah, apa buktinya? Buktinya kalau waktu Shalat tiba, MasjidMasjid kebanyakan cuma didatangi oleh segelintir orang saja untuk melaksanakan Shalat berjama’ah. Itu pun biasanya orang-orang tua yang ingin ‘mendekatkan’ diri kepada Allah karena merasa sudah ‘dekat’ waktunya. Hehe. Yang konsisten mendirikan Shalat berjama’ah di Masjid karena mengetahui kedahsyatan pahalanya juga kami rasa masih sangat sedikit. Kalau saja kebanyakan dari kita tahu, niscaya Masjid akan penuh dengan anak-anak muda, remaja, dewasa, bahkan para orang tua dan manula. Nah, melalui buku ini mudah-mudahan kami dapat memberikan motivasi bagi anda sekalian. Termasuk si Sami’un nich yang kedul juga Shalatnya. Mengapa bisa demikian? Mungkin kasusnya bisa jadi hampir mirip dengan dua kisah tentang murid sekolah dasar dan karyawan tadi.

Ngomong-ngomong, mana si Sami’un ya, dari tadi kagak nyeletuk. Biasanya kritis. Jangan hanya semangat mengikuti motivasi bisnis saja, atau seminar-seminar pengembangan diri, dan lain-lain. Motivasi Shalat juga penting. Lebih penting malah dibandingkan motivasi bisnis dan pengembangan diri. Dengan Shalat, anda sudah memegang kunci akhirat dan juga kunci dunia. Lha kok bisa? Lha kan tadi sudah diceritakan (sekilas) kalau Shalat kita beres, maka kata Allah, urusan kita akan dianggap beres oleh Allah. “ Itu kan di akhirat, di Yaumil Hisab. Bagaimana dengan di dunia? ”. Nah, mulai kritis lagi nich si Sami’un, kirain udah tidur. Jelas dong, jika Shalatnya beres, kata Allah urusan nanti di akhirat dianggap beres juga. Tinggal di-check Shalatnya, jika pahala Shalatnya full tank, maka tidak usah lama-lama untuk berhisab ria, langsung dech tuh melenggang kangkung. Kemana? Ya ke Surga lah!


[1]Perkara yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba pada hari Kiamat kelak adalah dilihat (dulu) shalatnya. Jika shalatnya baik, dia telah beruntung (dalam sebuah riwayat lain disebutkan : telah sukses) dan jika shalatnya rusak, dia telah gagal dan merugi”. (Diriwayatkan oleh ath-Thabrani di dalam kitab al-ausath (I/409) (Majma’ul Bahrain), no.532 dan 533. Al- ‘Allamah al-Albani di dalam kitab Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah menyebutkan : “ Secara global, dengan seluruh jalannya, hadits ini shahih. Wallaahu a’lam.” (III/346)

One thought on “Shalat : Kunci Dunia = Akhirat (Surga)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s