Tabungan Dosa Harian Kita 2

Untuk itu, marilah kita coba ‘menganalisa’ sebagai bentuk kehati-hatian kita, berapa banyak dalam sehari-semalam kita mengumpulkan ‘tabungan’ dosa-dosa kecil atau dosa yang seringkali kita sepelekan yang mana jika dikumpulkan tentunya akan besar juga dan membuat repot kita tidak saja di akhirat nanti, bahkan di dunia pun sudah akan Allah berikan balasannya. Untuk sementara, kita kesampingkan dulu dosa-dosa besar yang terlanjur telah kita perbuat, karena sesungguhnya penebus dosa-dosa besar yang telah dilakukan adalah dengan bertaubat sungguh-sungguh kepada Allah dan tidak mengulangi mengerjakan perbuatan dosa besar tersebut. Hanya Allah SWT saja-lah yang berhak menghisab dan perhitungan Allah SWT amat cepat dan tepat, tidak akan dirugikan sedikitpun dari diri kita terhadap perhitungan Allah yang Maha Adil.

Baiklah, kita coba hitung dengan metode sederhana yang coba saya kemukakan. Dalam sehari-semalam kita diberikan waktu oleh Allah SWT waktu sebanyak 24 jam. Sama, setiap orang yang hidup di bumi ini memiliki waktu 24 jam. Dalam waktu 24 jam tersebut, berapa banyak waktu yang kita pergunakan untuk ibadah? Berapa banyak kita pergunakan untuk istirahat/tidur? Berapa banyak waktu tersebut yang kita gunakan dengan sia-sia? Atau bahkan Berapa banyak dari waktu 24 jam tersebut yang kita gunakan untuk berbuat dosa dan maksiat terhadap Allah SWT?

Jika kita pergunakan ukuran standar sebagai contoh, anggaplah kita sebagai manusia biasa, dimana mempergunakan waktu-waktu tersebut untuk istirahat atau tidur sebanyak 6 jam dalam sehari-semalam, dan untuk ibadah shalat 5 waktu menghabiskan waktu 3 jam dimana tiap-tiap waktu shalat wajib anggaplah kita pergunakan sebanyak 36 menit (dari mulai jalan, wudhu, shalat, dzikir dan do’a). Sedangkan sisanya (24 jam-6 jam (waktu tidur)-3 jam (waktu ibadah shalat) = 15 jam).

Sisa waktu yang 15 jam ini adalah waktu-waktu yang kita pergunakan untuk pergi ke kantor, bekerja, jalan-jalan, atau apapun yang merupakan aktivitas kita sehari-hari. Pada sisa waktu tersebutlah merupakan waktu-waktu yang sangat potensial bagi kita berbuat dosa ataukah kebaikan. Supaya aman dan cukup fair (adil) perhitungannya, kita asumsikan dalam waktu 15 jam tersebut setiap detiknya ada saja 1 (satu) point dosa yang kita perbuat (ingat, kita hanya mencoba menghitung dosa yang seringkali tidak kita sadari atau malah seringkali kita sepelekan). Sebenarnya pada saat ibadah ataupun waktu tidur bisa saja ada timbul dosa, seperti lintasan-lintasan pikiran saat sedang shalat yang membuat kita tidak fokus pada ibadah shalat yang sedang kita kerjakan, tapi oke-lah kita abaikan saja, anggaplah pada saat ibadah kita terbebas dari dosa, jadi kita fokus pada yang 15 jam dimana waktu-waktu tersebut kemungkinan besar kita berbuat dosa baik besar maupun kecil ataupun berbuat untuk kebaikan, namun pada bahasan ini kita hanya akan menghitung dosa-dosa kecil saja, yang seringkali tidak kita sadari atau kita sepelekan. Adapun kebaikan yang kita lakukan dalam waktu-waktu tersebut kita abaikan saja dulu, karena hanya pahala ibadah shalat saja yang kita hitung dahulu, sementara pahala kebaikan (selain pahala shalat) yang kita lakukan anggaplah sebagai tabungan dan penyempurna ibadah shalat kita ataupun penggugur dosa-dosa besar yang telah kita lakukan. Fokus kaijian kita adalah Ibadah shalat dan dosa-dosa kecil yang tidak kita sadari (sering kita sepelekan) maupun kita sadari. Kita coba hitung dengan satuan detik, karena satuan waktu tersebut merupakan satuan waktu terkecil yang mampu kita pantau (hitung) tanpa alat.

Wah, terlalu (kebangetan) dong masa setiap detik kita berbuat dosa? Bebal amat tuh orang, adakah orang yang sekeji itu? Mungkin kita berfikir demikian, tapi marilah kita bertanya dan jujur pada diri sendiri, mari kita ‘bongkar’ diri kita yang sebenarnya. Misalkan kita di rumah saja selama 15 jam tersebut, ada saja pikiran-pikiran ‘liar’ berlintasan di benak kita, entah berprasangka buruk, kesal terhadap orang-orang sekitar, tidak bersyukur, apalagi kalau kita menghidupkan TV di rumah kita, begitu layar terkembang nampaklah aurat-aurat di rumah kita melalui TV, mulai dari iklan, sinetron, FTV, film-film local ataupun import, dan acara lainnya yang mengumbar nafsu. Belum lagi kalau kita pergi ke luar, begitu membuka pintu, eh ada si mbak yang tidak berjilbab melintas, ternyata kita mengagumi (sadar-ataupun tidak, sekejap atau berulang melihatnya) tatkala melihat fisiknya yang menarik, akhirnya mondar-mandir di pikiran kita hingga hinggap di benak, semakin melangkah ke luar akan ada satu, dua, puluhan, bahkan ratusan, hal-hal yang sulit bagi kita untuk lepas dari dosa.

Masya Allah, ternyata sungguh jika kita hitung, mungkin hitungannya bukan lagi setiap detik kita mengumpulkan satu dosa, bahkan setiap detik bisa beberapa dosa langsung masuk rekening ‘tabungan’ dosa kita atau bahkan sepersekian detik seperti kilatan cahaya yang namanya dosa tersebut langsung masuk ke ‘rekening’ dosa kita, sementara Allah adalah Maha Teliti dan Maha cepat perhitungannya.

Bisa jadi, hitungan detik tersebut masih jauh lebih lambat dibandingkan perhitungan Allah untuk menghitung dosa-dosa kita, contohnya jika kita merokok, para ulama sudah sepakat bahwa rokok itu haram hukumnya, seandainya kita merokok, sekali hisap saja berapa banyak racun yang terdapat pada rokok terhirup ke dalam paru-paru, dan itu hitungannya bukan lagi detik melainkan ‘saat’ yang artinya bisa sepersekian detik asap rokok tersebut mengisi setiap rongga paru-paru si perokok, dan setiap sepersekian detik dihitung 1 point dosa karena kerusakan yang ditimbulkannya sangat besar. Tapi biasanya para perokok akan berdalih, tidak apa-apa merokok, toh, badan kepunyaan saya, kalau sakit juga saya yang tanggung, sampeyan kok repot. Jangan salah, badan yang kita ‘pakai’ adalah miliki Allah, dimana harus kita jaga dengan baik. Allah sendiri, menurut Rosulullah dalam hadits memintakan sedekah atas badan kita yang terdiri dari 360 ruas sendi tersebut. Ibarat sewa, berapa coba jika kita harus ‘menyewa’ tubuh ini dari Allah? Tak akan sanggup kita membayarnya, namun Allah hanya menginginkan sedekah tersebut cukup dengan shalat 2 rakaat di waktu dhuha. Nah, ini malah oleh dia (perokok) merusaknya dengan meracuni tubuh tersebut dengan racun yang terdapat dalam rokok, jelas Allah tidak ridha. Belum lagi asap yang dihembuskan keluar dari mulut dan hidung si perokok tersebut masih akan berkeliaran di udara, dan dihirup oleh orang-orang di sekitarnya yang bisa jadi tidak suka akan asap rokok, otomatis dosanya tergantung dari berapa banyak asap tersebut mencemarkan udara yang dihirup oleh orang-orang sekitar perokok. Nah, misalkan dia merokok di angkot yang penuh sesak, setiap detik atau sepersekian detik dosa akibat merokok tersebut berlipat-lipat jumlahnya masuk ke ‘tabungan’ dosa kita. Oleh karena itu, sungguh sangat aniaya dan bodoh orang yang saat ini masih merokok, apalagi di tempat umum sungguh sangat jahat dan egois. Kalau bisa, khusus bagi perokok yang merokok di tempat umum, sebaiknya asap yang anda hasilkan dari merokok ditelan saja, jangan dihembuskan keluar sedikitpun sebagai upaya meminimalisir dosa. Hal tersebut merupakan dosa yang seringkali tidak kita sadari atau mungkin sadar, tapi disepelekannya, sementara kata Allah, sebesar zarah pun akan Allah hisab di Hari Perhitungan.

Contoh lainnya adalah misalkan saja kita pergi ke Mall, dan berniat untuk refreshing atau istilah anak sekarang cuci mata, atau mungkin sekedar mengantar anak-istri belanja sekalian jalan-jalan, atau mengantar orang tua berbelanja, dan benarlah setiba di mall kita melihat banyak hal-hal yang tidak selayaknya untuk kita lihat, sementara kita menikmatinya dan menganggapnya hiburan yang menyenangkan dan menyejukkan hati (meskipun sebenarnya menyengsarakan hati), masyaAllah, dalam sepersekian detik berapa point dosa telah memenuhi ‘rekening’ dosa kita, dari mulai niat, kedua kaki melangkah, kedua mata yang melihat, pikiran-pikiran ‘liar’ lalu-lalang hingga hinggap pada benak, semua bagian-bagian tubuh tersebut akan bersaksi kelak di akhirat pada Hari Perhitungan nanti, bahkan kulit-pun akan menjadi saksi, lihatlah contoh tersebut, dalam sepersekian detik beberapa bagian dari anggota tubuh kita berkontribusi terhadap ‘tabungan’ dosa kita. Bisa jadi, sepulang dari mall kita ‘panen’ dosa.

Sungguh hal ini jarang sekali kita sadari, kecuali kita memiliki kesadaran dan berusaha mengeremnya semaksimal mungkin. Sebenarnya bisa saja kita menghindar dengan cara menundukkan pandangan dan senantiasa berdzikir dan istighfar kepada Allah, namun rasa-rasanya susah juga ya kalau kita jalan ke luar rumah untuk konsisten tunduk dan tidak mengamati sekitar, ada saja keperluan kita untuk menoleh kanan-kiri, depan-belakang. Misalnya saja, ketika kita menengok ke kanan-kiri bermaksud hendak menyebrang jalan, eh, ada saja pemandangan yang membuat kita berdosa. Mending kalau kita sekali melihat langsung istighfar, seringnya malah terlena, curi-curi pandang lagi dengan alasan barangkali ada kendaraan lewat. Eh, bener ternyata ada motor lewat dan yang mengendarainya (atau yang diboncengnya) seorang wanita dengan tidak memakai helm, dan berpakaian serba mini, jadi deh pandangan kita tertuju padanya, wah … wah, astaghfirullah.

Bahkan seringkali kita berusaha menundukkan pandangan saat di luar rumah, contohnya saja pada saat kita mengendarai mobil atau motor, selalu saja mata ini melirik jika di pinggir jalan ada pemandangan yang ‘melenakan’ nafsu syahwat kita, bahkan kalau kita perhatikan sampai-sampai kepala dan badan kita ikut menengok pemandangan tersebut sampai miring-miring, atau kita sudah berusaha dengan teguh untuk tidak lirik kanan lirik kiri, fokus ke jalan di depan, eh, tiba-tiba saja di depan mobil kita ‘mejeng’ dengan manis mobil truk dengan gambar-gambar wanita yang seronok (anda pasti pernah mengalaminya) dan dengan tulisan-tulisan yang cukup memprovokasi yang terkadang membuat kita merasa geli juga. Dan dengan pemandangan tersebut sulit bagi kita untuk tidak melihat ke depan kendaraan kita, karena kalau tidak, bisa-bisa mobil kita malah nubruk, apalagi saat kondisi macet, bisa anda bayangkan betapa ‘tidak berdaya’-nya kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s