Inventarisir Dosa Harian : Cek !!

Baiklah, jika kita sepakat bahwa sesuai sabda Nabi Muhammad di atas, bahwa mustahil bagi kita untuk lepas dari dosa, meskipun diantara waktu Shalat. Ingat, ini dosa kecil yang seringkali dianggap remeh oleh kita. Sesungguhnya jika dosa besar hanya mampu dihapus dengan taubat yang sungguh-sungguh. Jika demikian, dosa seperti apa sich yang dimaksud oleh Nabi Muhammad? Seperti kata Sami’un tadi, dia menganggap bersih-bersih aja tuch, gak berbuat dosa. Bener nich kita tidak berbuat dzolim selama waktu antara shalat? Apakah mata kita sudah benar-benar dijaga? Mulut kita benar-benar terkendali dan lebih banyak diam? Apakah telinga kita senantiasa digunakan untuk mendengar hal-hal yang bermanfaat saja? Apakah pikiran kita lurus-lurus saja? Dan lain-lain seluruh anggota tubuh ini apakah sudah aman dan terkendali? Ayo kita buka-bukaan, maksudnya, kita buka-bukaan tentang diri kita sendiri, tidak usah diumumkan kepada orang lain. Kita muhasabah diri, kita mencoba menghisab diri sendiri, gak usah menghisab-hisab orang lain. Diri kita saja dulu, coba kita instropeksi, dosa apa sich yang kemungkinan kita perbuat antara waktu Shalat ke Shalat? Coba, kita merenung sejenak.

Oke. Sudah dapat?

Dapat apa? Itu tadi, sudah dapat belum inventarisir kemungkinan dosa apa saja yang kita perbuat? Pura-pura lupa ya? Hehe. Baiklah, coba kita bareng-bareng instropeksi ya. Pada saat beraktivitas, mulai bangun tidur, mandi, sekolah, kerja, main, belanja, refreshing, dan lain sebagainya. Munginkah kita berbuat dosa. Jawabannya sangat mungkin. Banyak malah.

Sebagai manusia biasa, kita tentu tidak luput dari yang namanya dosa, baik dosa kecil ataupun dosa besar. Kita seringkali tidak menyadari dalam sehari-semalam atau 24 jam berapa banyak kita berbuat dosa. Kalau dosa besar barangkali kita dapat mengingatnya, namun dosa-dosa kecil yang sering kita lakukan tanpa kita sadari karena kelengahan ataupun kelalaian kita terkadang kita abaikan atau tidak mempedulikannya. Jadi, berapa banyak setiap hari kita berbuat dosa-dosa kecil seperti maksiat, membicarakan orang lain (ghibah), pasang muka cemberut, menyakiti perasaan orang lain, melihat aurat orang lain di jalanan-majalah-koran-TV-internet baik sengaja ataupun tidak sengaja, atau mungkin kita-lah yang menebar aurat kemana-mana, melalaikan janji, berbohong, tidak jujur, marah sama anak-istri, marah sama anak buah, mengutuk orang yang menyalip motor atau mobil kita, berpikiran mesum, berbuat usil dan jahil, berkata-kata kasar ataupun tidak senonoh, dan lain-lain yang rasa-rasanya setiap hari kita tidak dapat luput dari hal-hal yang telah disebutkan tadi, atau bahkan banyak lagi daftar dosa-dosa yang tidak terasa yang belum dituliskan. Betapa kita sangat berpotensi untuk berbuat dzolim terhadap diri kita sendiri dan juga orang lain, apalagi terhadap Allah, rasa-rasanya banyak betul kedzoliman yang kita lakukan. Dan ingat, segala sesuatunya dicatat tanpa luput sedikitpun.

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun”. (QS Al Kahfi [18]:49).

Hanya Allah SWT dan kita sendirilah yang tahu, atau bahkan kita sendiri malah tidak sadar, sementara Allah azza wa jalla Maha Meliputi Segala Sesuatu, dan tidak akan luput dari ‘pantauan’ Allah Azza Wa jalla meskipun dosa tersebut sebesar zarah atau atom sekalipun pasti akan Allah hisab di Hari Perhitungan (Yaumil Hisab).

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. bersabda:  Allah Ta’ala berfirman (kepada malaikat pencatat amal): Bila hamba-Ku berniat melakukan perbuatan jelek, maka janganlah kalian catat sebagai amalnya. Jika ia telah mengerjakannya, maka catatlah sebagai satu keburukan. Dan bila hamba-Ku berniat melakukan perbuatan baik, lalu tidak jadi melaksanakannya, maka catatlah sebagai satu kebaikan. Jika ia mengamalkannya, maka catatlah kebaikan itu sepuluh kali lipat. Hadits riwayat Abu Hurairah ra. (Shahih Muslim No.183)

Dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. tentang apa yang diriwayatkan dari Allah SWT bahwa Allah berfirman: Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan dan kejelekan. Kemudian beliau (Rasulullah) menerangkan: Barang siapa yang berniat melakukan kebaikan, tetapi tidak jadi mengerjakannya, maka Allah mencatat niat itu sebagai satu kebaikan penuh di sisi-Nya. Jika ia meniatkan perbuatan baik dan mengerjakannya, maka Allah mencatat di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat hingga kelipatan yang sangat banyak. Kalau ia berniat melakukan perbuatan jelek, tetapi tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatat hal itu sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Jika ia meniatkan perbuatan jelek itu, lalu melaksanakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kejelekan. Hadits riwayat dari Ibnu Abbas ra. (Shahih Muslim No.187)

Untuk itu, marilah kita coba ‘menganalisa’ sebagai bentuk kehati-hatian kita, berapa banyak dalam sehari-semalam kita mengumpulkan tabungan dosa-dosa kecil atau dosa yang seringkali kita sepelekan yang mana jika dikumpulkan tentunya akan besar juga dan membuat repot kita tidak saja di akhirat nanti, bahkan di dunia pun sudah akan Allah berikan balasannya. Untuk sementara, kita kesampingkan dulu dosa-dosa besar yang terlanjur telah kita perbuat, karena sesungguhnya penebus dosa-dosa besar yang telah dilakukan adalah dengan bertaubat sungguh-sungguh kepada Allah dan tidak mengulangi mengerjakan perbuatan dosa besar tersebut. Hanya Allah SWT saja-lah yang berhak menghisab dan perhitungan Allah SWT amat cepat dan tepat, tidak akan dirugikan sedikitpun dari diri kita terhadap perhitungan Allah yang Maha Adil.

Baiklah, kita coba hitung dengan metode sederhana yang coba saya kemukakan. Dalam sehari-semalam kita diberikan waktu oleh Allah SWT waktu sebanyak 24 jam. Sama, setiap orang yang hidup di bumi ini memiliki waktu 24 jam. Benar buakan? Apakah ada yang protes? Iya, kecuali dia hidup di planet lain. Hehe.

Dalam waktu 24 jam tersebut, berapa banyak waktu yang kita pergunakan untuk ibadah? Berapa banyak kita pergunakan untuk istirahat atau tidur? Berapa banyak waktu tersebut yang kita gunakan dengan sia-sia? Atau bahkan Berapa banyak dari waktu 24 jam tersebut yang kita gunakan untuk berbuat dosa dan maksiat terhadap Allah SWT?

Jika kita pergunakan ukuran standar sebagai contoh, seperti si Sami’un, anggaplah kita sebagai manusia biasa, dimana mempergunakan waktu-waktu tersebut untuk istirahat atau tidur sebanyak 6 jam dalam sehari-semalam, dan untuk ibadah Shalat 5 waktu menghabiskan waktu 3 jam dimana tiap-tiap waktu Shalat wajib anggaplah kita pergunakan sebanyak 36 menit (dari mulai jalan, wudhu, adzan, Shalat sunnah, Shalat wajib, dzikir dan do’a). Sedangkan sisanya (24 jam-6 jam (waktu tidur)-3 jam (waktu ibadah Shalat) = 15 jam). Waktu 36 menit tersebut standar untuk Shalat berjama’ah di Masjid untuk tiap waktu. Jika anda mengerjakannya lebih ringkas, misalnya Shalat sendiri di rumah, berarti hitung saja berapa lama waktu Shalat, berapa lama untuk tidur, dan sisanya merupakan waktu beraktivitas anda yang bisa berpotensi untuk kebaikan ataukah keburukan. Masing-masing akan punya hitung-hitungannya sendiri, di buku ini hanya sekedar patokan saja.

Sisa waktu yang 15 jam ini adalah waktu-waktu yang kita pergunakan untuk pergi ke kantor, bekerja, jalan-jalan, atau apapun yang merupakan aktivitas kita sehari-hari. Pada sisa waktu tersebutlah merupakan waktu-waktu yang sangat potensial bagi kita berbuat dosa ataukah kebaikan. Supaya aman dan cukup fair (adil) perhitungannya, kita asumsikan dalam waktu 15 jam tersebut setiap detiknya ada saja 1 (satu) point dosa yang kita perbuat (ingat, kita hanya mencoba menghitung dosa yang seringkali tidak kita sadari atau malah seringkali kita sepelekan). Sebenarnya pada saat ibadah ataupun waktu tidur bisa saja ada timbul dosa, seperti lintasan-lintasan pikiran saat sedang Shalat yang membuat kita tidak fokus pada ibadah Shalat yang sedang kita kerjakan, tapi oke-lah kita abaikan saja, anggaplah pada saat ibadah kita terbebas dari dosa, jadi kita fokus pada yang 15 jam dimana waktu-waktu tersebut kemungkinan besar kita berbuat dosa baik besar maupun kecil ataupun berbuat untuk kebaikan, namun pada bahasan ini kita hanya akan menghitung dosa-dosa kecil saja, yang seringkali tidak kita sadari atau kita sepelekan. Adapun kebaikan yang kita lakukan dalam waktu-waktu tersebut kita abaikan saja dulu, karena hanya pahala ibadah Shalat saja yang kita hitung dahulu, sementara pahala kebaikan (selain pahala Shalat) yang kita lakukan anggaplah sebagai tabungan dan penyempurna ibadah Shalat kita ataupun penggugur dosa-dosa besar yang terlanjur telah kita lakukan. Fokus kajian kita adalah hubungan Ibadah Shalat dan dosa-dosa kecil yang tidak kita sadari (sering kita sepelekan) maupun kita sadari. Adapun kita coba hitung dengan satuan detik, karena satuan waktu tersebut merupakan satuan waktu terkecil yang mampu kita pantau (hitung) tanpa alat.

Wah, terlalu (kebangetan) dong masa setiap detik kita berbuat dosa? Bebal amat tuh orang, adakah orang yang sekeji itu? Begitu celetuk si Sami’un. Mungkin kita juga berpikir demikian, tapi marilah kita bertanya dan jujur pada diri sendiri, mari kita ‘bongkar’ diri kita yang sebenarnya. Misalkan kita di rumah saja selama 15 jam tersebut, ada saja pikiran-pikiran ‘liar’ berlintasan di benak kita, entah berprasangka buruk, berpikiran mesum, kesal terhadap orang-orang sekitar, tidak bersyukur, apalagi kalau kita menghidupkan TV di rumah kita, begitu layar terkembang nampaklah aurat-aurat di rumah kita melalui TV, mulai dari iklan (shampo, sabun mandi, dan lain-lain yang lebih sering menampilkan wanita-wanita cantik dan sexy sebagai model iklan), sinetron, FTV, film-film local ataupun import, dan acara lainnya yang mengumbar nafsu. Menonton berita pun, presenternya sebagian besar wanita yang cantik dan menarik secara fisik. Belum lagi kalau kita pergi ke luar, begitu membuka pintu, eh ada si mbak yang tidak berjilbab melintas, ternyata kita mengagumi (sadar-ataupun tidak, sekejap atau berulang melihatnya) tatkala melihat fisiknya yang menarik, akhirnya mondar-mandir di pikiran kita hingga hinggap di benak, semakin melangkah ke luar akan ada satu, dua, puluhan, bahkan ratusan, hal-hal yang sulit bagi kita untuk lepas dari dosa.

Masya Allah, ternyata sungguh jika kita hitung, mungkin hitungannya bukan lagi setiap detik kita mengumpulkan satu dosa, bahkan setiap detik bisa beberapa dosa langsung masuk rekening tabungan dosa kita atau bahkan sepersekian detik seperti kilatan cahaya yang namanya dosa tersebut langsung masuk ke ‘rekening’ dosa kita, sementara Allah adalah Maha Teliti dan Maha cepat perhitungannya. Sami’un mulai tampak serius, sambil mengelus-elus janggutnya yang Cuma beberapa helai. Entah, apa yang dipikirkan Sami’un, apakah kalimat di atas tadi, ataukah mikirin janggutnya yang tidak setebal syekh-syekh dari Arab sono, melainkan hanya beberapa helai saja seperti rambut jagung. Hehe. Kembali fokus.

Bisa jadi, hitungan detik tersebut masih jauh lebih lambat dibandingkan perhitungan Allah untuk menghitung dosa-dosa kita, contohnya jika kita merokok, para ulama sudah sepakat bahwa rokok itu haram hukumnya, seandainya kita merokok, sekali hisap saja berapa banyak racun yang terdapat pada rokok terhirup ke dalam paru-paru, dan itu hitungannya bukan lagi detik melainkan ‘saat’ yang artinya bisa sepersekian detik asap rokok tersebut mengisi setiap rongga paru-paru si perokok, dan setiap sepersekian detik dihitung 1 point dosa karena kerusakan yang ditimbulkannya sangat besar. Tapi biasanya para perokok akan berdalih, tidak apa-apa merokok, toh, badan kepunyaan saya, kalau sakit juga saya yang tanggung, sampeyan kok repot. Si Sami’un juga dahulu kala pikirannya begitu tuch. Ada juga yang ngeyel, katanya rokok tidak apa-apa, tidak haram, kalau tidak ada koreknya. Jadi yang haram korek api, katanya bukan rokoknya. Hehehe…aya aya wae.

Jangan salah, badan yang kita ‘pakai’ adalah milik Allah, dimana harus kita jaga dengan baik. Allah sendiri, menurut Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits memintakan sedekah atas badan kita yang terdiri dari 360 ruas sendi tersebut. Ibarat sewa, berapa coba jika kita harus ‘menyewa’ tubuh ini dari Allah? Tak akan sanggup kita membayarnya, namun Allah hanya menginginkan sedekah tersebut cukup dengan Shalat 2 rakaat di waktu dhuha. Nah, ini malah oleh dia (perokok) merusaknya dengan meracuni tubuh tersebut dengan racun yang terdapat dalam rokok, jelas Allah tidak ridha. Belum lagi asap yang dihembuskan keluar dari mulut dan hidung si perokok tersebut masih akan berkeliaran di udara, dan dihirup oleh orang-orang di sekitarnya yang bisa jadi tidak suka akan asap rokok, otomatis dosanya tergantung dari berapa banyak asap tersebut mencemarkan udara yang dihirup oleh orang-orang sekitar perokok. Nah, misalkan dia merokok di angkot yang penuh sesak, setiap detik atau sepersekian detik dosa akibat merokok tersebut berlipat-lipat jumlahnya masuk ke tabungan dosa kita. Oleh karena itu, sungguh sangat aniaya dan bodoh orang yang saat ini masih merokok, apalagi di tempat umum sungguh sangat jahat dan egois. Kalau bisa, khusus bagi perokok yang merokok di tempat umum, sebaiknya asap yang anda hasilkan dari merokok ditelan saja, jangan dihembuskan keluar sedikitpun sebagai upaya meminimalisir dosa. Hal tersebut merupakan dosa yang seringkali tidak kita sadari atau mungkin sadar, tapi disepelekannya, sementara kata Allah, sebesar zarah pun akan Allah hisab di Hari Perhitungan.

Contoh lainnya adalah misalkan saja kita pergi ke pusat perbelanjaan atau Mall, dan berniat untuk refreshing atau istilah anak sekarang cuci mata, atau mungkin sekedar mengantar anak-istri belanja sekalian jalan-jalan, atau mengantar orang tua berbelanja, dan benarlah setiba di mall kita melihat banyak hal-hal yang tidak selayaknya untuk kita lihat, sementara kita menikmatinya dan menganggapnya hiburan yang menyenangkan dan menyejukkan hati (meskipun sebenarnya menyengsarakan hati), masyaAllah, dalam sepersekian detik berapa point dosa telah memenuhi ‘rekening’ dosa kita, dari mulai niat, kedua kaki melangkah, kedua mata yang melihat, pikiran-pikiran ‘liar’ lalu-lalang hingga hinggap pada benak, semua bagian-bagian tubuh tersebut akan bersaksi kelak di akhirat pada Hari Perhitungan nanti, bahkan kulit-pun akan menjadi saksi, lihatlah contoh tersebut, dalam sepersekian detik beberapa bagian dari anggota tubuh kita berkontribusi terhadap tabungan dosa kita. Bisa jadi, sepulang dari mall kita ‘panen’ dosa.

Sungguh hal ini jarang sekali kita sadari, kecuali kita memiliki kesadaran dan berusaha mengeremnya semaksimal mungkin. Sebenarnya bisa saja kita menghindar dengan cara menundukkan pandangan dan senantiasa berdzikir dan istighfar kepada Allah, namun rasa-rasanya susah juga ya kalau kita jalan ke luar rumah untuk konsisten tunduk dan tidak mengamati sekitar, ada saja keperluan kita untuk menoleh kanan-kiri, depan-belakang. Misalnya saja, ketika kita menengok ke kanan-kiri bermaksud hendak menyebrang jalan, eh, ada saja pemandangan yang membuat kita berdosa. Mending kalau kita sekali melihat langsung istighfar, seringnya malah terlena, curi-curi pandang lagi dengan alasan barangkali ada kendaraan lewat. Eh, bener ternyata ada motor lewat dan yang mengendarainya (atau yang diboncengnya) seorang wanita dengan tidak memakai helm, dan berpakaian serba mini, jadi deh pandangan kita tertuju padanya, wah … wah, astaghfirullah. Memang sulit dan mustahil kita menghindar untuk menjaga pandangan. Si Sami’un nyeletuk, “Pake kacamata kuda saja.” Tetep aja susah. Udah deh, jangan nge-les lagi, emang mustahil kita lepas dari yang namanya dosa.

Bahkan seringkali kita berusaha menundukkan pandangan saat di luar rumah, contohnya saja pada saat kita mengendarai mobil atau motor, selalu saja mata ini melirik jika di pinggir jalan ada pemandangan yang ‘melenakan’ nafsu syahwat kita, bahkan kalau kita perhatikan sampai-sampai kepala dan badan kita ikut menengok pemandangan tersebut sampai miring-miring, atau kita sudah berusaha dengan teguh untuk tidak lirik kanan lirik kiri, fokus ke jalan di depan, eh, tiba-tiba saja di depan mobil kita ‘mejeng’ dengan manis mobil truk dengan gambar-gambar wanita yang seronok (anda pasti pernah mengalaminya) dan dengan tulisan-tulisan yang cukup memprovokasi yang terkadang membuat kita merasa geli juga. Dan dengan pemandangan tersebut sulit bagi kita untuk tidak melihat ke depan kendaraan kita, karena kalau tidak, bisa-bisa mobil kita malah nubruk, apalagi saat kondisi macet, bisa anda bayangkan betapa ‘tidak berdaya’-nya kita.

Masya Allah, sungguh rasa-rasanya kita ini memang banyak dosa yang seringkali tidak kita sadari atau dengan kata lain kita sepelekan. Untuk itulah mari coba kita bahas, kita bongkar kekurangan-kelemahan diri kita sebagai makhluk Allah yang dibekali oleh Allah dengan hawa nafsu. Wajar, namun bukan berarti harus kita perturutkan terus keinginan nafsu tersebut, cobalah kita belajar mengendalikannya dan menundukannya.

Namun juga kita disini lebih baik berhati-hati daripada ternyata hitungan dosa kita terlalu kecil atau sedikit dibandingkan hitungan Allah Yang Maha Teliti yang ternyata tidak kita sadari dosa kita jauh lebih besar dari yang kita perkirakan. Lebih baik kita menganggap, sekecil apapun dosa yang kita perbuat, lihatlah itu sebagai suatu hal yang besar (masalah), daripada kita menganggap dosa tersebut sepele, karena jika kita tidak mempedulikannya seringkali kita cenderung akan mengulanginya dan memperbuat dosa-dosa yang lebih besar lagi. Demikian juga sebaliknya jika kita menilai amalan-amalan ibadah kita, sebesar apapun amalan ibadah kita, sebaiknya kita anggap kecil dan kurang, agar kita senantiasa menambah terus kualitas dan kuantitas amalan ibadah kita dengan sebaik-baiknya, sambil terus memohon ampunan-Nya.

Semakin besar kita ‘melihat’ dosa-dosa kita, mungkin semakin baik, maka inysaAllah kita akan semakin terpacu untuk ‘tancap gas’ berusaha mengikis dosa-dosa tersebut dengan amalan-amalan yang (insyaAllah) diterima oleh Allah SWT.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir ”.(QS Qaaf [50]:16-18).

MasyaAllah, lihatlah betapa (kalau kita sadar) ternyata kita ini kemana-mana ‘dikawal’ oleh 2 Malaikat pencatat amal baik dan amal buruk. Tidak akan pernah luput sedikitpun segala perbuatan yang kita kerjakan, baik itu berupa kebaikan maupun keburukan dari pantauan malaikat-malaikat Allah. Seandainya saja kedua malaikat tersebut bisa kita tanya, sudah berapa point dosa dan pahala kita, mungkin kita dapat ‘bocoran’ apakah status kita di akhirat nanti adalah Golongan kanan (Surga) ataukah Golongan kiri (Neraka). Untuk itulah, mari kita mencoba menghisab diri kita terlebih dahulu sebelum dihisab oleh Allah. Dengan cara berusaha menghisab diri sendiri tersebut, diharapkan kita akan senantiasa bermuhasabah atau memperbaiki kualitas maupun kuantitas amalan ibadah kita, dan menjauhi hal-hal yang mendekatkan kita pada dosa. Jika kita merasa bahwa kita memang sulit untuk luput dari dosa sehari-hari, cobalah kita upayakan untuk diminimalisir. Atau jika ternyata melihat kondisi saat ini banyak hal-hal yang membuat kita benar-benar tidak bisa luput dari dosa, misalkan saja rekan kerja kita (wanita) masih banyak yang belum berhijab, dimana kita tidak mungkin terhindar dari berkomunikasi dengannya, maka bicaralah seperlunya saja dan kerjakanlah amalan-amalan yang bisa menjadi pembersih dari dosa-dosa tersebut. Pembersih dosa yang paling utama dan dahsyat adalah Shalat tepat waktu yang dikerjakan secara berjama’ah di Masjid (tempat ibadah umum). Sesuai sabda Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam :

Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa ia mendengar Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. bersabda, “Bagaimana pendapatmu seandainya di depan pintu salah seorang di antara kamu ada sungai yang ia mandi lima kali tiap hari di dalamnya, apakah kamu katakan, ‘Kotorannya masih tinggal?'” Mereka menjawab, “Kotorannya sedikit pun tidak bersisa.” Beliau bersabda, “Itulah perumpamaan Shalat yang lima waktu. Allah menghapus kesalahan-kesalahan dengannya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s