Konstruksi Shalat 5 Waktu

 Ibadah Shalat wajib lima waktu, sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya memiliki keistimewaan yang luar biasa bagi seorang Muslim. Ibadah Shalat wajib dilaksanakan dalam sehari semalam sebanyak lima kali, yakni Shubuh, Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, dan ‘Isya. Adapun kewajiban untuk mengerjakan Shalat bagi seorang Muslim dimulai sejak dia berusia 10 tahun. Sebagaimana hadits Dari ‘Abdullah bin ‘Umar r.a., dari Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : “ Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan Shalat ketika mereka berusia tujuh tahun. Pukullah mereka karena (tidak mengerjakannya) pada saat mereka berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah mereka di dalam tempat tidur”. (Abu Dawud, Kitab “ash-Shalaah, Bab “Mataa Yu’marul Ghulaam bish Shalaah, “ (I/33) no 495. Ahmad (II/180 dan 187). Dan dinilai shahih oleh al-Albani di dalam kitab Irwaa-ul Ghaliil (II/VII),(I/266).

Rukun Islam sebagaimana yang telah kita semua pahami terdiri dari 5 perkara, sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Abdirrohman Abdulloh bin Umar bin Khoththob rodhiyallohu ‘anhuma, dia berkata “Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: ’Islam itu dibangun di atas lima perkara, yaitu: Bersaksi tiada sesembahan yang haq kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh, menegakkan sholat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitulloh, dan berpuasa pada bulan Romadhon.”(HR.Bukhori dan Muslim).

Pertama adalah mengucapkan dua kalimah syahadat yang memiliki pengertian bahwa kita diwajibkan untuk bertauhid hanya kepada Allah swt (tiada ilah selain Allah) dan mengakui bahwa apa yang diajarkan oleh Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam (Muhammad Muhammad sebagai Rosul dan hamba Allah) adalah wahyu atau petunjuk dari Allah swt. Dengan demikian kita dilarang untuk menyekutukan-Nya. Rukun Islam selanjutnya, yakni Ibadah Shalat, zakat, puasa dan berhaji (pergi ke baitullah) merupakan amalan atau aplikasi dari syahadat kita. Dari ibadah-ibadah tersebut, Ibadah Shalat merupakan Ibadah yang istimewa dalam Islam karena menuntut untuk dikerjakan secara konsisten oleh setiap Muslim yang berakal dan Mukallaf (telah dikenai kewajiban syari’at agama). Adapun zakat hanya dikenakan bagi seorang Muslim yang mampu dan memiliki harta yang telah mencapai perhitungan untuk dikenai kewajiban membayar zakat. Jadi, tidak semua Muslim diwajibkan untuk membayar zakat. Sementara ibadah puasa hanya diwajibkan pada Bulan Ramadhan saja dimana dilaksanakan setiap tahun sekali selama kurang lebih 1 Bulan atau 30 hari. Sedangkan pergi ke Baitullah, atau Ibadah Haji hanya diwajibkan sekali selama seumur hidup, itu pun hanya bagi yang memiliki kemampuan untuk pergi ke Tanah suci.

Jelaslah bahwa hanya Ibadah Shalatlah yang diwajibkan oleh Allah kepada setiap Muslim yang berakal sehat dan Mukallaf untuk dikerjakan setiap hari sebanyak lima waktu secara konsisten. Tidak ada udzur baginya, meskipun seseorang itu sakit, selama dia masih sadar (berakal) maka tetap dikenai kewajiban, hanya saja mendapatkan keringanan, seperti dapat dikerjakan sambil berdiri, duduk, maupun berbaring. Sejak seorang Muslim menginjak masa akil baligh, maka kewajiban Shalat lima waktu tetap melekat padanya selama dia berakal sampai ajal menjemputnya.

Jika seseorang oleh Allah swt diberikan umur untuk hidup di dunia ini selama 60 tahun, maka kewajiban Shalat telah melekat padanya selama 50 tahun, karena berdasarkan hadits tersebut di atas, seorang Muslim dikenakan kewajiban untuk Shalat sejak dia berusia 10 tahun. Dalam masa 50 tahun tersebut, jika kita ambil rata-rata setiap tahun terdiri dari 360 hari, maka umur orang tersebut sama dengan 18.000 hari. Adapun hubungannya dengan ibadah Shalat wajib yang lima waktu adalah, dalam waktu selama 18.000 hari tersebut pelaksanaan Shalat wajib lima waktu sebanyak 5 x 18.000 yakni 90.000 kali. Hal ini berarti orang tersebut diwajibkan untuk Shalat wajib sebanyak 90.000 kali selama masa umurnya yang 60 tahun. Melihat data tersebut, betapa catatan Shalat lima waktu merupakan catatan terbanyak bila dibandingkan amalan lainnya. Menjadi terang benderanglah kita akan sabda Rosulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam yang menyatakan bahwa amalan yang pertama kali dihisab oleh Allah adalah Shalatnya, diantaranya adalah riwayat dari Anas bin Malik, r.a, Sesungguhnya Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda : “Amalan yang pertama kali dihisab dari seseorang pada hari Kiamat kelak adalah Shalat. Jika Shalatnya itu baik, akan baik pula seluruh amalnya dan jika rusak Shalatnya itu, akan rusak pula seluruh amal perbuatannya”.

Dari Aisyah ra., bahwa Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tiga perkara aku bersumpah atasnya, Allah tidak menjadikan orang yang memiliki saham dalam Islam seperti orang yang tidak memiliki saham. Dan saham Islam itu ada tiga : Shalat, Puasa, dan Zakat. Allah tidak mengangkat seorang hamba di dunia lalu Dia memberikannya kepada selain-Nya pada hari kiamat. Dan tidaklah seorang laki-laki mencintai suatu kaum niscaya Allah menjadikannya bersama mereka. Perkara keempat seandainya aku bersumpah atasnya maka aku berharap aku tidak berdosa : Allah tidak menutupi seorang hamba di dunia kecuali Dia menutupinya pada Hari Kiamat.” (HR Ahmad).

Amalan wajib dan utama dalam Islam itu ada tiga, yaitu Shalat, Puasa, dan Zakat. Sebagaimana hadits tersebut di atas. Jika kita telusuri lebih jauh, perbandingan catatan pekerjaan amal ibadah seperti puasa, zakat dan pergi ke Baitullah jika dibandingkan dengan amal ibadah Shalat akan tampak bahwa catatan amal ibadah Shalat akan jauh lebih banyak dan dominan dibandingkan ibadah lainnya. Dalam masa satu tahun, maka perbandingannya adalah sebagai berikut :

Ibadah Puasa : Ibadah puasa yang wajib dikerjakan sebanyak 29-30 hari di Bulan Ramadhan, serta dikerjakan selama satu tahun sekali. Namun demikian keutamaan Bulan Ramadhan berpengaruh cukup besar bagi setiap ibadah yang dikerjakan pada Bulan tersebut, tak terkecuali ibadah Shalat selama bulan Ramadhan yang Allah lipat gandakan berkali lipat.

Zakat : Membayar zakat diwajibkan setahun sekali (zakat fitrah) dan adapun zakat harta (zakat mal) dibebankan hanya bagi yang memiliki harta yang sudah mencapai nisab zakat. Namun bagi yang tidak mampu, tidak ada kewajiban baginya.

Ibadah haji : Ibadah haji hanya dikerjakan sekali seumur hidup, itu pun bagi yang mampu. Karena untuk pergi ke Baitullah memerlukan pengorbanan yang cukup besar baik berupa fisik maupun mental. Bagi yang mampu, untuk beribadah haji setiap tahun pun hanya dapat melaksanakannya setahun sekali. Tidak bisa, kita berhaji setahun 2 kali, karena memang hanya setahun sekali. Kecuali Ibadah Umroh.

Ibadah Shalat : Ibadah Shalat dikerjakan oleh setiap Muslim yang berakal sehat dan Mukallaf tanpa memandang kaya ataupun miskin, semua dikenai kewajiban yang sama. Pelaksanaannya pun setiap hari, dan dalam sehari semalam dikenakan kewajiban untuk Shalat wajib sebanyak lima kali. Dalam setahun (satu tahun kita anggap sama dengan 360 hari), seseorang yang mengerjakan Shalat secara penuh akan dicatat sebanyak 5 waktu Shalat x 360 hari yaitu sama dengan 1.800 kali. Ini berarti catatan amal ibadah Shalat merupakan dominan di dalam catatan amal yang wajib bagi seorang Muslim.

Jika kita bandingkan dalam hal banyaknya pelaksanaan amal ibadah Shalat wajib dengan ibadah lainnya yang tercakup dalam rukun Islam, atau saham dalam Islam menurut hadits Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, maka jumlah pelaksanaannya dalam satu tahun dapat kita bandingkan:

Ibadah Puasa Wajib di Bulan Ramadhan : 29-30 kali

Zakat dalam satu tahun : 1 kali

Ibadah Haji : 1 kali (Bagi yang mampu)

Ibadah Shalat dalam satu tahun : 1.800 kali

Kalau kita persentasekan :

Ibadah Puasa Wajib di Bulan Ramadhan : 1,67 % dibandingkan Pelaksanaan Ibadah Shalat wajib.

Zakat dalam satu tahun : 0,05 % dibandingkan Pelaksanaan Ibadah Shalat wajib.

Ibadah Haji : 0,05 % dibandingkan Pelaksanaan Ibadah Shalat wajib.

Apabila dalam buku catatan amal wajib seorang Muslim berupa buku layaknya sebuah buku tulis, maka catatan pahala amal ibadah Shalat akan mendominasi konstruksi buku catatan amal tersebut. Catatan amal ibadah Shalat wajib lima waktu akan mendominasi sebesar 98,23 %. Jadi, jika kitab amalan di akhirat nanti berbentuk seperti sebuah buku atau kitab, maka 98,23 % konstruksinya akan terbentuk oleh amalan Shalat. Belum lagi jika amalan Shalat-Shalat sunnah dikerjakan, misalnya amalan Shalat sunnah rawatib yang mengiringi Shalat fardhu, tentu akan semakin penuhlah catatan amal ibadah Shalat tersebut. Oleh karena itu, bagi seorang Muslim yang tidak mengerjakan Shalat wajib yang lima waktu, maka buku catatannya akan tampak kosong, meskipun mengerjakan amalan-amalan lainnya, karena ibadah Shalat adalah salah satu ibadah yang wajib. Apalagi jika ternyata seorang yang banyak berbuat dosa dan meninggalkan Shalat wajibnya, maka yang tampak pada buku catatan amal kemungkinan besar adalah hanya dosa-dosanya saja. Wallahu alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s